Imam Ali dan Baitul Mal: Teladan Sejati Sebagai Pribadi yang Amanah

SHIAHINDONESIA.COM – Di dalam kisah hidupnya yang sarat makna, Imam Ali membagi harta Baitul Mal kaum Muslim secara sama rata, tanpa ada keganjilan.

Dan setiap hari Jumat, ia selalu rajin membersihkan tempat di mana Baitul Mal disimpan dan senantiasa melaksanakan salat dua rakaat di sana sambil berkata,

“Hingga hari kiamat, tempat ini akan menjadi saksi bahwa aku tak pernah menyimpan harta Baitul Mal untuk diriku sendiri, dan aku membaginya secara sama rata.”

Suatu hari, Qanbar, budak Imam Ali mendatangi Imam Ali As sambil membawa seonggok perhiasan emas di dalam bejana, sambil memberi tahu kalau  emas itu adalah harta Baitul Mal. Di saat yang sama, Qanbar berkata kepada Imam Ali,

“Wahai Imam, selama ini engkau tak pernah sekalipun mengambil bagian dari harta Baitul Mal ini, dan engkau selalu membagi semua harta tersebut (kepada orang lain). Aku menyarankan agar engkau mengambil bagian dari harta itu, wahai Imam.”

“Celaka bagimu wahai Qanbar! Apakah engkau ingin memasukkan api yang besar ke dalam rumahku?!” Sahut Imam Ali.

Ketika itu juga, Imam Ali mengambil sebilah pedang, lalu ia memotong-motong kepingan emas itu dengan pedang sambil berkata,

“Bagilah potongan-potongan emas ini sesuai dengan jatag yang harus diterima. Kalaupun ada sisa dari emas itu, bagilah lagi emas itu kepada mereka!”

Potret kisah Imam Ali ini menjadi pelajaran bagi kita akan makna amanah. Di mana, ia tak mau sedikit pun mengambil harta Baitul Mal, meski hanya seukuran biji jagung.

Karena, bagaimana pun di dalamnya ada hak-hak orang lain, yang layak mendapatkannya. Meski, sejatinya ia juga berhak mendapatkannya, tapi ia lebih mementingkan hak orang lain ketimbang dirinya.

Sumber: 1001 Dastan Az Zendegoni-e Emom Ali As, Muhammad Reza Ramzi, hal. 246, penerbit Tebyan, Qom-Iran (1001 Kisah Kehidupan Imam Ali As)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top