Tugas ‘Penanti’ Imam Mahdi Afs (Bagian 3)

SHIAHINDONESIA.COMMengapa begitu banyak keutamaan dari perbuatan menanti?

Dengan memerhatikan riwayat-riwayat pada tulisan sebelum ini, mungkin timbul pertanyaan bagi banyak orang, mengapa penantian merupakan suatu keutamaan yang amat menonjol? Untuk mendapatkan jawaban yang benar atas pertanyaan ini, kita harus memerhatikan beberapa poin di bawah ini.

Menunggu adalah pengait antara penganut mazhab Syiah dengan para Imamnya: Seperti yang Anda ketahui, konsep “Berwilayah” dan “imamah” adalah pilar keyakinan mazhab Syiah, dan keyakinan akan pentingnya keberadaan Tuhan dan Imam Maksum di setiap zaman. Dasar-dasar itu yang menjadi pembeda dengan mazhab-mazhab lainnnya.

Dalam keyakinan mazhab Syiah, menerima Imam Maksum dan tunduk kepada mereka dan Imam Zaman (Imam Mahdi), adalah puncak dari semua keutamaan dan syarat mendasar untuk diterimanya semua ibadah.

Tentu saja menanti di sini artinya adalah menggantungkan harapan kita  akan kemunculan Imam Mahdi dan kebangkitannya dalam menegakkan keadilan. Di mana, ia (Al-Mahdi) adalah Imam Maksum kedua belas dari keluarga Rasulullah Saw.

Dia yang saat ini menjadi khalifah (wakil) Allah, yang menjadi perantara rahmat Allah bagi hamba-hamba-Nya, yang masih hidup dan menjadi saksi dan pengamat atas perbuatam kaum Syi’ah-nya di tengah kesulitan dan kesengsaraan.

Penantian adalah tolok ukur nilai manusia: Harapan manusia merupakan tolok ukur untuk mengukur pertumbuhan, kesempurnaan dan keunggulannya. Ada yang mengatakan: “Katakan padaku apa yang kamu inginkan, maka aku akan memberitahumu siapa dirimu”.

Harapan yang tinggi adalah cerminan dari kesempurnaan jiwa dan kedewasaan kepribadian manusia dan semangat juangnya yang tinggi. Sebaliknya, tingkat harapan yang rendah yang tidak bernilai, justru menunjukkan rendahnya harkat dan martabat manusia.

Imam Ali As mengatakan dalam konteks ini,

“Nilai seseorang sebanding dengan usahanya.”

Setelah membaca pendahuluan di atas, dapat dikatakan, bahwa dikarenakan manusia yang menantikan (kemunculan Al-Mahdi) memiliki harapan dan impian yang besar dan memiliki nilai maka secara alamiah mereka juga memiliki nilai (kemanusiaan) yang tinggi pula.

Penjelasan bahwa harapan utama seorang penanti adalah otoritas tertinggi agama Allah dan mazhab Syiah di seluruh dunia, tegaknya pemerintahan orang-orang saleh dan tertindas di seluruh dunia.

Melawan tangan kaum penindas dan arogan dari seluruh penjuru dunia, tegaknya sistem keadilan di seluruh dunia, bumi dan perluasan keamanan dan terwujudnya kesejahteraan di seluruh penjuru dunia.

Menunggu merupakan faktor dinamis dan konstruktif dalam diri individu dan masyarakat: sebagaimana akan terlihat jelas dari pembahasan berikut serta perkara tugas mereka yang menunggu.

Menunggu  memainkan peran penting dalam konstruksi, dinamika dan reformasi individu. dan masyarakat selama ketidakhadirannya, dan jika seorang penanti mengamalkan tugas-tugas yang yang ditujukan kepadanya, maka dia akan mencapai teladan ideal orang yang beragama dan akan meraih kedudukan dan pangkat yang tinggi.

Dengan kata lain, orang yang menunggu, dengan memerhatikan segala syarat menunggu, mencapai harkat dan martabat yang sama seperti yang diharapkan dalam agama Islam dan mencapai titik kesempurnaan yang tertinggi.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top