Diam Bukan Berarti Pro-Israel!

SHIAHINDONESIA.COM – Palestina terbakar. Setiap hari kita disuguhi gambar anak-anak yang terpanggang hidup-hidup, ibu-ibu yang menggenggam jasad anaknya yang tak lagi bernyawa, bangunan yang runtuh tanpa sisa. Dunia melihat, dunia tahu, dunia bicara. Dan kita, para pemuda yang katanya peduli, ramai-ramai mengangkat suara.

Saya melihat banyak pemuda dan pemudi yang lantang mendukung Palestina di media sosial—dan saya angkat topi untuk itu. Ini bukti bahwa masih ada kemanusiaan dalam diri kita. Tapi, semakin lama saya memperhatikan, ada sesuatu yang terasa busuk. Dukungan ini mulai berubah menjadi kompetisi moral.

“Kamu nggak posting? Berarti kamu pro-Israel.”
“Kamu nggak share video kekejaman Zionis? Dasar nggak peduli!”
“Kalau kamu diam, berarti kamu bagian dari penjajahan!”

Sejak kapan standar kepedulian diukur dari seberapa sering kita update story Instagram? Sejak kapan aktivisme berubah menjadi ajang pamer kepedulian?

Media Sosial: Senjata atau Sekadar Alat Pencitraan?

Jangan salah paham. Saya tidak meremehkan kekuatan media sosial. Kampanye digital memang penting. Kita butuh suara, kita butuh gelombang perlawanan, kita butuh fakta-fakta yang terus disebarkan agar dunia tidak lupa bahwa Palestina masih dijajah.

Tapi satu hal yang harus kita pahami: aktivisme tidak berhenti di layar ponsel.

Nietzsche pernah berkata, “He who fights with monsters should look to it that he himself does not become a monster.” (Siapa yang melawan monster, harus berhati-hati agar tidak menjadi monster itu sendiri.)

Kita mengutuk Israel yang mengintimidasi dan membungkam suara yang berbeda, tapi secara tidak sadar, kita melakukan hal yang sama terhadap sesama kita. Kita memaksa semua orang harus berteriak dengan cara yang sama, harus berjuang dengan format yang seragam.

Sejak kapan kita menjadi diktator dalam perjuangan kemanusiaan ini?

Bukankah kita menentang penindasan? Lalu kenapa kita menindas orang-orang yang mendukung Palestina dengan cara mereka sendiri?

Saya heran dengan mentalitas ini. Seakan-akan, semakin vokal seseorang di media sosial, semakin tinggi nilai moralnya. Seakan-akan, jika tidak ikut arus posting dan retweet, berarti kita musuh kemanusiaan.

Søren Kierkegaard, filsuf eksistensialis, pernah berkata: “Purity of heart is to will one thing.” (Kemurnian hati adalah menghendaki satu hal dengan tulus.)

Jadi, apakah dukungan kalian benar-benar tentang Palestina? Atau hanya tentang eksistensi diri?

Apakah kalian benar-benar peduli? Atau hanya ingin diakui sebagai “aktivis” agar terlihat lebih baik di mata teman-teman kalian?

Solidaritas Bukan Ajang Validasi Moral

Lihatlah ke sekitar. Ada orang yang tidak banyak bicara di media sosial, tapi setiap bulan menyisihkan sebagian gajinya untuk donasi ke Palestina. Ada yang tidak pernah mengunggah foto bendera Palestina, tapi setiap malam mendoakan mereka dengan tulus. Ada yang tidak ikut demo di jalanan, tapi menulis opini yang tajam untuk mengguncang kesadaran dunia.

Dan kalian, yang hanya duduk di balik layar, mengetikkan kalimat-kalimat penuh amarah, menuduh orang lain sebagai “pengkhianat” hanya karena mereka tidak berteriak sekeras kalian—apa yang sebenarnya kalian perjuangkan?

Plato pernah berkata: “Justice means giving each person what they deserve.” (Keadilan adalah memberikan kepada setiap orang hak mereka.)

Dan setiap orang punya hak untuk mendukung dengan caranya sendiri.

Jika kalian benar-benar peduli pada Palestina, maka berhenti menghakimi mereka yang memilih jalannya sendiri dalam mendukung perjuangan ini.

Palestina Butuh Aksi Nyata, Bukan Sekadar Status di Story

Kita harus sadar: perang ini tidak akan dimenangkan hanya dengan unggahan media sosial. Kita butuh gerakan nyata. Kita butuh dukungan ekonomi, kita butuh edukasi, kita butuh diplomasi.

Jangan hanya berhenti di kata-kata. Jangan hanya jadi aktivis musiman yang berisik saat ada trending topic, lalu menghilang saat perhatian publik bergeser ke hal lain. Jangan jadi bagian dari generasi yang hanya bisa mengetik “Free Palestine” di kolom komentar, tapi tidak melakukan apa-apa di dunia nyata.

Jika kalian benar-benar peduli, lakukan sesuatu yang lebih dari sekadar berbicara. Donasi. Bantu sebarkan edukasi yang valid. Hadiri diskusi. Ajari orang-orang di sekitar kalian tentang sejarah penjajahan ini. Boikot produk-produk yang terbukti mendukung Zionis.

Jangan cuma main aman dengan update status.

Karena pada akhirnya, Palestina tidak butuh aktivis dadakan yang hanya ingin terlihat keren. Palestina butuh orang-orang yang benar-benar bergerak.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata:
“Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.”

Kita bisa berisik di media sosial sepuasnya, tapi kalau kita tidak melakukan apa-apa di dunia nyata, kita tetap tidak lebih dari penonton yang hanya menyalak di tribun.

Dan jika kita hanya sibuk menuding siapa yang “cukup peduli” dan siapa yang tidak, kita sedang memperlemah perjuangan ini dari dalam.

Jadi, pilihlah.

Mau jadi bagian dari perjuangan?
Atau hanya jadi komentator yang sibuk menyalahkan orang lain?

Karena Palestina tidak butuh orang-orang yang hanya ingin terlihat peduli.
Palestina butuh mereka yang benar-benar bertindak.

Jangan cuma jadi aktivis digital Palestina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version