SHIAHINDONESIA.COM – Di tanah yang dijanjikan, darah tumpah setiap hari. Tangis anak-anak menjadi lagu pengantar tidur bagi malam-malam panjang yang tak mengenal tenang. Palestina bukan hanya sedang menghadapi perang, tapi sebuah ketidakadilan yang telah berlangsung puluhan tahun—penindasan sistematis, penjajahan tanpa henti, dan pengabaian dunia internasional yang menyesakkan dada.
Namun, yang lebih menyedihkan dari penderitaan itu sendiri adalah ketika sebagian masyarakat kita—yang katanya menjunjung nilai kemanusiaan dan keadilan—malah berkata, “Kami juga punya masalah sendiri. Kenapa harus mengurusi Palestina?”
Ini bukan sekadar dalih. Ini adalah bentuk ketidakpedulian yang dibungkus dengan logika palsu. Dan inilah saatnya kita membongkar narasi keliru ini, satu per satu.
Kita Semua Punya Masalah, Tapi Itu Bukan Alasan untuk Mati Rasa
Benar, tiap bangsa punya persoalan. Dari kemiskinan, korupsi, pengangguran, hingga krisis pendidikan. Tapi menjadikan itu sebagai alasan untuk bersikap apatis terhadap penderitaan bangsa lain adalah bentuk egoisme yang membutakan nurani.
Apakah orang miskin tidak boleh menolong sesama miskin? Apakah negara yang belum sempurna dilarang untuk bersolidaritas dengan negara tertindas?
Empati tidak pernah menunggu situasi ideal. Ia justru muncul di tengah keterbatasan. Ia hidup karena hati tak pernah tega melihat penderitaan—meski penderitaan itu bukan datang dari orang yang kita kenal atau satu bendera dengan kita.
Solidaritas Bukan Tentang Sempurna, Tapi Tentang Kemanusiaan
Palestina bukan sekadar isu politik atau konflik agama. Ia adalah tragedi kemanusiaan yang telah berlangsung lebih dari 75 tahun. Rumah-rumah dihancurkan, anak-anak dibunuh, perempuan diperkosa haknya, dan pria-pria dipenjara tanpa pengadilan. Ini bukan soal politik luar negeri. Ini soal manusia yang diinjak-injak martabatnya, dan dunia memilih diam.
Sebagian orang beralasan, “Kita tidak bisa mengurus semua penderitaan di dunia.” Tapi pertanyaannya: apakah kita bahkan sudah mencoba? Atau kita hanya mencari alasan untuk tidak terlibat?
Dalih: ‘Itu Bukan Urusan Kita’ Adalah Awal dari Matinya Kemanusiaan
Mengabaikan Palestina karena merasa itu “jauh dari kita” adalah bentuk normalisasi kezaliman. Seakan-akan, penderitaan hanya layak dipedulikan bila terjadi di depan mata. Padahal, dunia ini saling terhubung. Ketidakadilan di satu tempat adalah ancaman bagi keadilan di tempat lain.
Hari ini kita diam ketika Palestina dijajah. Esok, jangan terkejut jika ketidakadilan datang ke pintu rumah kita—dan dunia juga memilih diam.
Perspektif Islam: Tidak Ada Iman Tanpa Kepedulian
Islam adalah agama yang membangkitkan empati. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa bangun di pagi hari dan tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.”
(HR. al-Hakim, al-Mustadrak, juz 2, hal. 474)
Kepedulian bukan hanya soal memberikan bantuan fisik. Ia adalah wujud keimanan—menolak menormalisasi penindasan, menolak diam saat saudara kita dibantai.
Bahkan lebih keras lagi, Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata:
“Orang yang diam terhadap kezaliman adalah setan bisu.”
Kalimat itu bukan retorika. Ia adalah cambuk bagi siapa pun yang menjadikan kezaliman sebagai tontonan belaka, bukan seruan untuk bertindak.
Bentuk Dukungan Tak Harus Sama, Tapi Sikap Tidak Boleh Netral
Sebagian orang merasa tidak bisa membantu karena tidak turun ke jalan, tidak punya uang untuk berdonasi, atau tidak paham situasi politik Palestina. Tapi dukungan itu banyak bentuknya:
- Mendoakan dengan tulus.
- Mengedukasi orang lain.
- Menyuarakan kebenaran di media sosial.
- Menolak membeli produk yang mendukung penjajahan.
- Tidak diam ketika kebenaran diinjak-injak.
Diam bukan netral. Diam adalah berpihak pada penindas. Dalam konflik antara penjajah dan yang dijajah, antara penindas dan tertindas, tidak ada ruang bagi netralitas semu.
Kita boleh sibuk dengan urusan bangsa sendiri. Kita boleh mengkritik sistem di negeri ini. Tapi jangan jadikan itu alasan untuk mematikan empati kita terhadap Palestina.
Kita tidak sedang diminta menyelesaikan masalah mereka. Kita hanya diminta untuk tidak menutup mata. Untuk tidak menjadikan penderitaan sebagai sesuatu yang layak diabaikan. Untuk tetap menjadi manusia—dalam dunia yang terlalu mudah berubah menjadi dingin.
Palestina tidak sedang menunggu malaikat turun dari langit. Mereka hanya menunggu kita untuk tidak melupakan mereka.
Dan ketika sejarah kelak menulis siapa yang berdiri, siapa yang diam, dan siapa yang bersembunyi di balik dalih, pastikan kita berada di sisi yang benar. Di sisi kemanusiaan. Di sisi keadilan. Di sisi Palestina.
