SHIAHINDONESIA.COM – Dikisahkan, pada suatu hari ada seseorang yang sering mengganggu Imam Musa Kadzim dan memusuhinya. Melihat itu, orang-orang terdekat imam pun berkata kepada Imam Kadzim, “Wahai imam, restuilah kami untuk membunuh orang itu!”
Imam pun melarang mereka untuk tidak membunuh orang yang sering menggangunya itu. Ia pun berusaha mencari alamat rumah orang itu yang notabene seorang petani. Setelah mendapatkan alamat rumahnya, ia pun segera mendatanginya.
Imam Kadzim pun menunggangi seeokor keledai menuju mendatanginya di ladangnya. Begitu imam memasuki kawasan ladang, ia pun mendapati orang itu yang tengah berladang.
“Hei, jangan rusak tanamanku!” Teriak orang itu kepada imam. Imam pun semakin mendekati orang itu dan duduk di sampingnya. Imam mencoba bercanda dengan orang itu, dan berkata kepadanya, “Berapa kerugian yang harus aku ganti dari kerusakan tanamanmu?” Tanya imam
“Seratus dinar!”
“Kira-kira berapa keuntungan yang kamu harapkan dari hasil panen tanaman ini?” Tanya imam lagi.
“Aku harap mendapatkan uang dua ratus dinar dari hasil panen,” jawabnya.
Imam Kadzim pun memberikan sekantung plastik berisi uang tiga ratus Dinar kepadanya sambil berkata, “Dari uang ini, masih ada uang sisa dari jumlah yang kamu inginkan ketika panen nanti. Dan Allah mengabulkan harapan kamu dari uang yang kamu harapkan.”
Orang itu kemudian berdiri dan mencium kepala mulia imam dan memohon agar kesalahannya dimaafkan oleh imam. Imam pun tersenyum lalu pulang.
Pada satu kesempatan, Imam Kadzim pergi ke masjid. Dan di sana, ia melihat orang yang sering mengganggunya itu. Ketika orang itu melihat kedatangan imam, ia langsung berkata, “Allah lebih Tahu tentang ketetapan kenenaranmu.”
Sejurus kemudian, para sahabat imam mendatangi orang itu dan berkata, “Bagaimana ceritanya, Anda sekarang memuji imam kami?”
“Sekarang kalian sudah tahu apa yang aku katakan tadi?!” balas orang itu lalu melanjutkan memanjatkan doa untuk Imam Kadzim.
Percakapan antara orang itu dan para sahabat imam pun masih berlanjut. Imam Kadzim ketika pulang ke rumah, ia menjelaskan kepada para sahabatnya (tentang kejadian yang sebenarnya, yang membuat orang itu luluh). “Sebelum mereka hendak membunuh orang itu, yang juga kalian inginkan (melakukan pembunuhan), lebih baik mana dengan cara yang telah aku lakukan? Cukup dengan sejumlah uang, aku mampu mendamaikannya. “
Sumber:
Biharul Anwar, jil. 48, ha. 1022
Manaqib Ibn Syahr Asyub, jil. 4, hal. 319
