Felix Siauw dan Bahaya Mengklaim Siapa Islam

SHIAHINDONESIA.COM – Entah sejak kapan seseorang bisa merasa menjadi penjaga gerbang surga, menentukan siapa yang layak disebut Muslim dan siapa yang tidak. Tapi itulah yang sedang terjadi di tengah kita. Ustaz Felix Siauw, seorang pendakwah yang dikenal luas lewat media sosial, kembali membuat gaduh publik dengan pernyataan absurd dan membingungkan: bahwa Iran bukan Islam, dan karena itu tidak termasuk dalam “barisan umat”. Kalimat pendek, namun seperti kapak tumpul yang menghantam wajah umat Islam sendiri. Dilempar sembarangan, tanpa rasa tanggung jawab terhadap luka yang ditimbulkan.

Di tengah tragedi kemanusiaan yang masih berlangsung di Gaza, saat anak-anak Palestina meninggal kehabisan darah di reruntuhan rumah mereka sendiri, saat Israel masih dengan pongahnya menyerang rumah sakit dan kamp pengungsi, kita malah disuguhi pernyataan yang sibuk mencoret satu kekuatan Islam dari daftar “barisan umat”. Bukan menambah pasukan di medan melawan penjajahan, tapi justru menyusutkan barisan dari belakang. Kalau bukan disebut konyol, lalu apa?

Felix, entah sadar atau tidak, telah mewakili satu pola pikir berbahaya yang terus menjangkiti sebagian tubuh umat Islam: cara berpikir yang menjadikan perbedaan mazhab atau paham politik sebagai alasan untuk mencabut status keislaman seseorang. Seolah Islam ini milik kelompoknya saja. Seolah yang tak ikut narasi mereka, otomatis bukan bagian dari umat. Sebuah arogansi teologis yang tak hanya menjijikkan, tapi juga memalukan.

Mari kita bicara fakta. Iran adalah negara yang berpenduduk mayoritas Muslim Syiah Itsna ‘Asyariyah. Mazhab ini bukan mazhab pinggiran yang muncul kemarin sore. Ia lahir dari rahim sejarah Islam yang sahih. Mereka shalat, mereka puasa, mereka berhaji, mereka membaca Al-Qur’an. Bahkan tokoh-tokoh besar mereka seperti Imam Ja’far al-Shadiq adalah guru dari para pendiri mazhab Sunni, termasuk Imam Abu Hanifah. Lalu atas dasar apa seorang Felix, yang belum tentu menyamai kapasitas keilmuan seorang mujtahid mu’tabar, berani berkata bahwa Iran “bukan Islam”?

Apakah karena berbeda pandangan soal kepemimpinan setelah Rasul? Apakah karena berbeda fiqh atau metode istinbath hukum? Ataukah hanya karena narasi politik kelompok tertentu tak cocok dengan arah geopolitik Iran? Jika itu alasannya, maka celakalah umat ini jika kita menilai keislaman seseorang dari kesesuaian ideologis, bukan dari syahadat, ibadah, dan komitmen terhadap nilai-nilai kebenaran.

Lebih ironis lagi, Iran yang dicaci ini adalah satu dari sangat sedikit negara Muslim yang dengan konsisten dan terbuka menantang eksistensi Israel. Sejak Revolusi Islam 1979, Iran telah menghapus kedutaan Israel dan menggantinya dengan Kedutaan Palestina. Mereka tidak sekadar mengirim doa, tetapi juga senjata dan logistik kepada kelompok-kelompok perlawanan Palestina. Hizbullah di Lebanon, yang telah mempermalukan tentara Israel di berbagai pertempuran, berdiri berkat sokongan Iran. Saat banyak negara Arab—yang katanya sesama Sunni—justru menormalisasi hubungan dengan Israel, membuka dagang dan mengizinkan pesawat Zionis terbang di atas wilayah mereka, Iran justru tetap konsisten di garis perlawanan.

Jadi siapa yang sebenarnya berada di pihak umat? Mereka yang mencaci dari podium sambil mengutip ayat suci dengan suara lantang, tapi diam seribu bahasa saat Gaza dibantai? Ataukah mereka yang dituding “bukan Islam” tapi justru berdiri di parit depan melawan penjajahan? Jika memang Iran bukan Islam, maka tampaknya Palestina sedang dibela oleh yang “bukan Islam”, sementara yang “Islam”-nya justru sibuk mengatur syarat keanggotaan umat seperti panitia ospek kampus.

Dan betapa lucunya kita. Kita ingin umat bersatu, tapi kita sendiri yang lebih dulu membelahnya. Kita teriak “Khilafah!” tapi tak sanggup hidup berdampingan dengan yang berbeda mazhab. Kita bicara soal ukhuwah, tapi sekalinya ada pihak yang tak sepaham, langsung kita caci, kita singkirkan, kita kafirkan. Seolah barisan umat ini adalah klub eksklusif yang hanya boleh diisi oleh mereka yang lulus ujian ideologis versi kelompoknya.

Felix Siauw dan para pengusung narasi sejenis harus tahu: setiap kali kalian mengeluarkan pernyataan seperti itu, kalian bukan sedang memperkuat barisan umat. Kalian sedang memperlemah benteng perlawanan. Kalian bukan sedang membela kebenaran, kalian sedang menyebar api perpecahan. Dan lebih parahnya lagi, kalian secara tidak langsung sedang membantu Zionis dan sekutunya—karena mereka tidak perlu repot memecah umat, kalau umat sudah rela dipecah dari dalam.

Pernyataan semacam ini bukan sekadar persoalan teologis. Ini persoalan etika, solidaritas, dan logika. Jika umat terus dibiarkan dipimpin oleh suara-suara semacam ini—yang lebih pandai mencaci daripada memahami, lebih rajin mengusir daripada merangkul—maka jangan harap perjuangan kita akan sampai ke ujung kemenangan.

Apakah Felix berhak tidak menyukai Iran? Tentu. Apakah ia boleh mengkritik Syiah? Silakan. Tapi jangan sampai kritik berubah menjadi vonis keislaman. Jangan sampai ketidaksukaan pribadi berubah menjadi propaganda sektarian yang merusak ukhuwah. Dan yang paling penting, jangan sampai kita, umat yang sedang berdarah-darah dibantai dari luar, justru sibuk melukai diri sendiri dari dalam.

Hari ini, Palestina butuh siapa pun yang bersedia berdiri bersamanya—tak peduli bendera apa yang dikibarkan, tak peduli dari mazhab mana ia datang. Yang kita butuhkan adalah keberanian, bukan cap kafir. Yang kita cari adalah solidaritas, bukan eksklusivitas.

Jadi sebelum Anda tergesa-gesa menyatakan “Iran bukan Islam”, coba lihat siapa yang hari ini berdiri menentang penjajahan, dan siapa yang hanya bisa berteriak di mimbar sambil mencaci saudara sendiri. Jangan-jangan, suara Anda justru lebih melukai umat daripada tentara Zionis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top
Exit mobile version