SHIAHINDONESIA.COM – Isu Palestina bukan sekadar isu agama. Ia adalah soal hak, keadilan, dan kemanusiaan yang selama puluhan tahun dicabik oleh kekuatan kolonialisme modern bernama Zionisme. Ketika dunia masih bersilang pendapat tentang siapa korban dan siapa penindas, sejarah, hukum internasional, dan kesaksian lapangan sudah cukup lantang menyuarakan siapa yang dijajah dan siapa yang menjajah.
Di tengah hiruk pikuk dunia digital, banyak yang bersikap hanya karena tren, atau sebaliknya, diam karena takut distigma. Tapi seharusnya, dukungan terhadap Palestina dilandasi kesadaran yang jernih. Berikut adalah tujuh alasan fundamental mengapa kita harus mendukung perjuangan rakyat Palestina.
1. Penjajahan Adalah Kejahatan Internasional yang Tak Boleh Ditoleransi
Sejak tahun 1948, rakyat Palestina telah mengalami pengusiran massal, pembantaian, dan penghancuran desa-desa oleh milisi Zionis dalam peristiwa yang dikenal sebagai Nakba. Hingga hari ini, mereka terus hidup dalam pengungsian, blokade, dan pendudukan.
Menurut hukum internasional, khususnya Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 242 dan No. 338, Israel diwajibkan mundur dari wilayah-wilayah yang diduduki pasca 1967, termasuk Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur. Namun, hingga kini, Israel tetap melanjutkan okupasinya, membangun permukiman ilegal, dan melanggar hak-hak sipil warga Palestina.
“Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan keadilan.” — Pembukaan UUD 1945
Referensi:
- UN Security Council Resolution 242 (1967)
- Human Rights Watch: Israel’s Apartheid Against Palestinians
2. Solidaritas Kemanusiaan Tidak Mengenal Agama
Rakyat Palestina bukan hanya Muslim. Di sana ada umat Kristen Palestina, warga sekuler, dan berbagai kelompok yang semuanya hidup di bawah penindasan militer Israel. Ini bukan soal perang agama, tetapi tentang pelanggaran hak asasi manusia.
Amnesty International dalam laporannya tahun 2022 menyatakan bahwa perlakuan Israel terhadap rakyat Palestina merupakan bentuk apartheid, sistem penindasan dan dominasi sistemik berdasarkan identitas etnis. Jika dunia membela Ukraina dari penjajahan Rusia, maka membela Palestina dari kolonialisme Israel seharusnya bukan sekadar pilihan—melainkan kewajiban moral.
Referensi:
- Amnesty International: Israel’s Apartheid Against Palestinians
3. Indonesia Punya Utang Sejarah terhadap Palestina
Sedikit orang tahu bahwa Palestina—melalui Mufti Besar Yerusalem, Syekh Muhammad Amin al-Husaini—adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1945. Ketika dunia Barat belum peduli pada bangsa kita, tokoh Palestina justru memerintahkan negara-negara Arab untuk mendukung kemerdekaan RI.
Menag Yaqut Cholil Qoumas menyatakan bahwa ini bukan hanya soal politik luar negeri, melainkan juga balas budi sejarah. Dukungan Indonesia terhadap Palestina adalah bentuk penghargaan terhadap solidaritas yang pernah kita terima.
Referensi:
4. Membela Palestina Adalah Konsistensi terhadap Prinsip Anti-Penjajahan
Indonesia secara konstitusional menolak segala bentuk penjajahan. Maka membela Palestina bukan sekadar aksi solidaritas sesaat, melainkan bentuk konsistensi ideologis terhadap amanat konstitusi.
Jika kita mengabaikan penjajahan di Palestina, berarti kita telah melukai cita-cita kemerdekaan bangsa sendiri. Lebih dari itu, kita akan menjadi bangsa yang hipokrit: menyerukan kemerdekaan tapi membisu saat bangsa lain ditindas.
Referensi:
- UUD 1945, Pembukaan
- Kalam Sindo – 4 Alasan Indonesia Harus Dukung Palestina
5. Dukungan Global terhadap Palestina Semakin Kuat
Pada Mei 2024, sebanyak 143 dari 193 negara anggota Majelis Umum PBB memilih mendukung keanggotaan penuh Palestina di PBB. Negara-negara besar seperti China, Rusia, Prancis, Spanyol, hingga Afrika Selatan menyuarakan dukungan mereka secara tegas.
Ini menunjukkan bahwa perjuangan Palestina bukan isu Muslim semata, melainkan isu global tentang hak, martabat, dan penegakan hukum internasional. Dengan kata lain, mendukung Palestina bukan bentuk keberpihakan buta, tapi keberpihakan kepada prinsip universal.
Referensi:
6. Palestina Adalah Tanah Suci Umat Islam
Di bumi Palestina terdapat Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam dan situs suci ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Al-Aqsa bukan hanya situs sejarah, tapi juga simbol spiritual dan identitas keislaman.
Ketika tanah suci itu diinjak-injak, diobrak-abrik, dan dijadikan arena kekerasan oleh militer Israel, maka itu bukan hanya persoalan politik—itu penghinaan terhadap nilai-nilai suci umat Islam. Tidak membela berarti mengamini pelanggaran tersebut.
Referensi:
7. Membela Palestina Adalah Jalan Menuju Perdamaian yang Hakiki
Mereka yang berkata “diam demi damai” lupa bahwa damai tidak lahir dari ketidakadilan. Kedamaian bukanlah status quo dari sebuah ketertindasan. Justru hanya dengan pengakuan terhadap hak-hak Palestina, maka perdamaian sejati bisa dicapai.
Solusi dua negara sebagaimana disepakati komunitas internasional hanya mungkin terjadi bila hak kembali para pengungsi diakui, pendudukan dihentikan, dan Palestina memperoleh kemerdekaannya secara penuh.
Referensi:
Penutup: Ini Bukan Soal Agama, Ini Soal Kemanusiaan
Mendukung Palestina tidak menjadikan kita anti-Semit, anti-Yahudi, atau membenci Israel sebagai entitas ras. Yang kita tentang adalah Zionisme sebagai ideologi kolonial yang menindas. Kita tidak membela bangsa, agama, atau warna kulit—kita membela manusia.
Karena dalam setiap nyawa yang dihilangkan, dalam setiap rumah yang dihancurkan, dan dalam setiap tangis anak-anak Palestina, ada panggilan moral yang tak boleh kita abaikan: “Di mana kamu saat keadilan diinjak-injak?”
