SHIAHINDONESIA.COM – Di era digital yang penuh dengan sorotan kamera dan riuhnya konten dakwah di media sosial, kita menyaksikan sebuah fenomena yang menyimpan paradoks menyakitkan: remaja muslim yang tampak religius namun masih larut dalam praktik-praktik yang mencederai agama mereka sendiri. Mereka rutin hadir di kajian Islam, memakai atribut keislaman, bahkan tak segan menulis kutipan ulama dan ayat Al-Qur’an di bio media sosial. Tapi di saat yang sama, mereka juga berpacaran, mendengarkan musik yang melalaikan, bercanda mesra di media sosial, dan perlahan menormalisasi maksiat.
Fenomena ini lebih dari sekadar kontradiksi. Ia adalah pengkhianatan terhadap makna hijrah itu sendiri. Hijrah yang sejatinya menuntut perubahan total, kini dikebiri menjadi sekadar perubahan penampilan. Hijrah yang harusnya menjauh dari maksiat, malah justru dibungkus dengan pembenaran-pembenaran nafsu.
Agama Dijadikan Hiasan, Bukan Pegangan
Fenomena ini sejatinya telah Allah peringatkan dalam Al-Qur’an:
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً”
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan…”
(QS. Al-Baqarah: 208)
Ayat ini menyentil keras siapa saja yang memilih-milih dalam beragama. Yang mau mengamalkan agama hanya pada bagian yang disukai, namun menolak dan mengabaikan yang tak cocok dengan hawa nafsunya. Mereka menjadikan agama sebagai hiasan, bukan pegangan.
Padahal, Islam bukan sekadar rutinitas. Bukan pula simbol. Islam adalah ketundukan total kepada Allah, dalam hati, ucapan, dan perbuatan. Ketika kajian dijadikan gaya hidup tapi tidak mengubah akhlak dan perilaku, maka ia telah kehilangan ruhnya.
Pacaran Islami? Tipu Daya Syaitan yang Halus
Salah satu bentuk paling jelas dari fenomena ini adalah berpacaran yang dibungkus dengan label “islami.” Mereka berkata, “Kami saling mengingatkan dalam kebaikan,” “Kami tak berduaan,” atau “Kami menjaga batas.” Namun pada kenyataannya, setiap percakapan, pertemuan, hingga candaan yang menggoda, hanyalah jalan-jalan kecil menuju zina.
Rasulullah Saw dengan tegas bersabda:
“Tidaklah seorang laki-laki dan perempuan berkhalwat, melainkan yang ketiganya adalah syaitan.”
(HR. Tirmidzi)
Syaitan tidak akan langsung menjerumuskan ke dalam zina besar, tapi ia memulainya dengan hal-hal kecil: chat malam hari, saling memanggil dengan julukan manja, saling curhat tentang perasaan, hingga akhirnya tumbuh keterikatan emosional yang sulit dihentikan.
Lebih dari itu, Imam Ali bin Abi Thalib a.s. juga memberi nasihat keras:
“Berhati-hatilah kalian dari bersenda gurau dengan wanita yang bukan mahram, karena ia membuka pintu-pintu setan di hatimu.”
(Ghurar al-Hikam, no. 1123)
Maka, pacaran, dalam bentuk apa pun, tidak akan pernah bisa disucikan dengan label “islami.” Jika ingin membangun cinta yang diberkahi, jalan satu-satunya adalah pernikahan.
Musik dan Dosa yang Dibungkus Hiburan
Yang lebih menyedihkan, banyak dari mereka yang telah terlibat dalam kajian dan gerakan hijrah ini tetap menjadikan musik sebagai bagian dari hidup mereka. Bahkan tidak jarang, lagu-lagu cinta, galau, hingga yang berbau erotis, diputar sambil membaca Al-Qur’an atau saat berzikir.
Apakah mereka tidak tahu bahwa musik adalah pintu maksiat yang halus namun dalam?
Imam Ja‘far Ash-Shadiq a.s. berkata:
“Mendengarkan alat musik dan nyanyian adalah dosa yang mengeraskan hati, dan kelak akan membuat wajah hitam di hari kiamat.”
(Wasail al-Syiah, jilid 12, hlm. 232)
Betapa tragisnya, ketika hati yang seharusnya dipenuhi dzikir dan alunan wahyu, malah dipenuhi oleh lirik-lirik yang merangsang syahwat, mengajak larut dalam dunia yang melalaikan.
Mereka berkata, “Kami mendengarkan musik untuk tenang,” padahal ketenangan sejati hanya datang dari mengingat Allah.
“أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ”
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Jika musik adalah pelarian, maka itu bukan penyembuhan. Itu hanyalah narkotik spiritual yang meninabobokan ruhani dari rasa bersalah terhadap dosa.
Kajian Bukan Fashion, Hijrah Bukan Konten
Mari kita akui secara jujur: hari ini banyak remaja menjadikan kajian sebagai tren dan hijrah sebagai konten. Mereka datang ke majelis ilmu lebih karena teman-teman juga ikut, atau demi eksistensi sosial. Mereka menulis “#hijrah” di bio, tapi masih menari di TikTok. Mereka menampilkan kutipan Imam Ghazali, tapi masih berkisah soal gebetan di caption Instagram.
Rasulullah Saw bersabda:
“Akan datang suatu zaman pada umatku, di mana mereka membaca Al-Qur’an, tapi Al-Qur’an tidak melewati tenggorokan mereka.”
(HR. Muslim)
Artinya, mereka pandai menampilkan Islam secara lahiriah, tapi tidak menghayatinya. Mereka pandai berkata, tapi tidak pandai tunduk. Dan inilah musibah besar umat Islam hari ini: ilmunya banyak, tapi tidak mengubah tingkah lakunya.
Kritik Ini Adalah Cermin, Bukan Hakim
Artikel ini tidak ditulis untuk menghakimi, apalagi mencaci. Ini adalah teguran yang lahir dari rasa cinta dan kepedulian. Karena jika nasihat hanya disampaikan dengan bahasa lembut dan manis, maka tidak akan membekas pada hati yang keras.
Allah telah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa ada dua tipe orang yang belajar ilmu:
“Seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal, namun tidak memahami isinya.”
(QS. Al-Jumu’ah: 5)
Jangan sampai kita menjadi seperti itu—membawa simbol Islam, tapi kosong dari makna. Rutin ikut kajian, tapi tidak membekas di hati. Hijrah di lisan, tapi belum di perbuatan.
Penutup: Mari Hijrah dengan Jujur
Hijrah bukan tentang status. Hijrah bukan tentang berapa kali ikut kajian. Hijrah adalah tentang kejujuran hati untuk meninggalkan dosa, dan keberanian untuk hidup dalam ketakwaan.
Allah tidak meminta kita menjadi sempurna. Tapi Allah meminta kita untuk jujur dalam taubat dan sungguh-sungguh dalam berjuang. Jika hari ini kita masih terjatuh dalam maksiat, maka menangislah dalam sujud. Jika kita masih lemah menahan godaan, maka mintalah kekuatan dari-Nya. Tapi jangan pura-pura hijrah, padahal masih memelihara dosa.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Mari berhenti memakai topeng religiusitas. Mari mulai hijrah yang sejati—dari dalam hati, dengan kesungguhan, dan dengan cinta kepada Allah yang murni.
