SHIAHINDONESIA.COM – Malam ini begitu sunyi. Angin berbisik perlahan di balik jendela, namun hati dan pikiranku bergemuruh, tak henti-hentinya mengulang kembali masa lalu yang ingin kulupakan. Aku duduk sendirian dalam kegelapan, hanya ditemani nyala lampu redup dan suara napasku yang berat. Semua kesalahan yang telah kulakukan berputar seperti film yang tak kunjung usai di dalam benakku. Aku menyesal, Ya Allah. Aku sungguh menyesal.
Aku ingin tidur, tapi tak bisa. Setiap kali aku memejamkan mata, dosa-dosaku seakan menari di hadapanku, mengingatkanku betapa jauh aku telah melangkah dari jalan yang benar. Aku merasa kotor, najis, seolah tak pantas lagi mengangkat tangan untuk berdoa kepada-Mu. Aku merasa seakan pintu taubat telah tertutup untukku, dan aku dibiarkan tenggelam dalam gelapnya penyesalan.
“Ya Allah, apakah Engkau masih mau menerima hamba-Mu ini?”
Air mataku mengalir tanpa bisa kutahan. Aku ingin berteriak, ingin lari dari bayang-bayang masa lalu, tapi ke mana? Ke mana aku harus pergi jika bukan kepada-Mu?
Aku teringat firman-Mu dalam Al-Qur’an, yang seakan menjadi jawaban bagi kegelisahanku:
“Dan katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”
(QS. Az-Zumar: 53)
Betapa ayat ini begitu menamparku. Aku yang hina, aku yang penuh dosa, masih saja berpikir bahwa Engkau tak akan mengampuniku? Bukankah Engkau adalah Tuhan yang Maha Pengampun? Bukankah Engkau yang Maha Pengasih, yang senantiasa membuka pintu taubat bagi siapa pun yang ingin kembali?
Tapi bagaimana caranya? Aku merasa hatiku begitu jauh dari-Mu. Aku telah berulang kali mengkhianati-Mu, melakukan kesalahan yang sama, membiarkan hawa nafsu menguasai diriku. Aku takut jika kali ini Engkau benar-benar membiarkanku tersesat, jika kali ini Engkau benar-benar meninggalkanku dalam kegelapan.
Aku jatuh tersungkur dalam sujud, keningku menempel di lantai yang dingin. Bibirku bergetar, melafalkan istighfar yang rasanya begitu berat karena dosa-dosa yang menyesakkan dada.
“Astaghfirullahal ‘azhim… Astaghfirullahal ‘azhim… Astaghfirullahal ‘azhim…”
Aku menangis sejadi-jadinya, seperti seorang anak kecil yang tersesat dan ingin kembali ke pangkuan ibunya. Aku tidak ingin lagi berada di jalan ini, Ya Allah. Aku ingin kembali kepada-Mu. Aku ingin merasakan ketenangan dalam ibadahku, aku ingin bisa membaca Al-Qur’an tanpa merasa malu, aku ingin bisa berdoa tanpa dihantui perasaan bahwa aku tidak pantas mengangkat tangan kepada-Mu.
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)
Jika Engkau mencintai hamba yang bertaubat, maka izinkan aku menjadi salah satu di antara mereka, Ya Allah. Aku ingin Engkau mencintaiku kembali, aku ingin merasakan lembutnya kasih sayang-Mu menyentuh hatiku yang gersang. Aku ingin merasakan manisnya ibadah yang penuh keikhlasan, yang tak lagi diwarnai dengan rasa bersalah dan beban dosa yang menghantui.
Aku tahu, taubat bukan sekadar kata-kata. Taubat adalah perubahan, adalah perjalanan panjang untuk kembali kepada-Mu. Dan aku takut, Ya Allah. Aku takut aku tak mampu. Aku takut aku akan jatuh lagi, bahwa aku akan mengulangi kesalahan yang sama.
Tapi aku lupa, Engkau tidak pernah meminta hamba-Mu untuk menjadi sempurna. Engkau hanya meminta mereka untuk terus kembali kepada-Mu. Engkau tidak meminta kami untuk tidak pernah berbuat salah, tetapi Engkau meminta kami untuk selalu berusaha memperbaiki diri.
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi siapa saja yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, kemudian tetap berada di jalan yang benar.”
(QS. Thaha: 82)
Ya Allah, aku ingin tetap berada di jalan yang benar. Aku ingin bangkit dari kehinaan ini. Aku ingin berjalan kembali menuju-Mu, meskipun dengan langkah yang gontai dan tubuh yang letih. Aku ingin agar setiap air mata yang jatuh ini menjadi saksi di hadapan-Mu bahwa aku benar-benar menyesal, bahwa aku benar-benar ingin berubah.
Aku tidak meminta dunia, aku tidak meminta kekayaan atau kehormatan. Aku hanya ingin Engkau memandangku dengan rahmat-Mu, aku hanya ingin Engkau tidak membiarkanku tersesat lagi. Aku hanya ingin, di akhir hayatku nanti, aku bisa tersenyum karena Engkau ridha kepadaku.
Ya Allah, aku tidak memiliki siapa pun kecuali Engkau. Manusia mungkin akan menghakimiku, mereka mungkin tidak akan pernah memaafkan kesalahanku, tetapi Engkau berbeda. Engkau Maha Pemaaf. Engkau Maha Pengasih. Engkau tidak akan pernah mengusir hamba yang datang dengan hati yang tulus.
Maka malam ini, aku menyerahkan segalanya kepada-Mu. Aku meletakkan bebanku di hadapan-Mu. Aku tidak ingin lagi hidup dalam bayang-bayang penyesalan yang menyiksa. Aku ingin taubat ini menjadi awal yang baru bagiku. Aku ingin melangkah menuju cahaya-Mu, dan aku tahu, jika aku mengambil satu langkah menuju-Mu, Engkau akan berlari kepadaku.
Aku akan berubah, Ya Allah. Aku akan memperbaiki hidupku. Aku akan meninggalkan dosa-dosa ini dan menggantinya dengan amal kebaikan. Aku akan mendekat kepada orang-orang saleh, aku akan mengisi waktuku dengan ibadah dan ilmu yang bermanfaat.
Dan jika suatu hari aku kembali jatuh, aku akan bangkit lagi. Jika aku kembali tergelincir, aku tidak akan menyerah. Karena aku tahu, Engkau selalu menunggu hamba-Mu yang ingin kembali.
Ya Allah, aku kembali kepada-Mu. Aku memohon dengan segenap hatiku, jangan biarkan aku tersesat lagi. Peluklah aku dalam rahmat-Mu, dan izinkan aku merasakan indahnya berada dalam naungan cinta-Mu.
Aamiin, ya Rabbal ‘Alamin.
