SHIAHINDONESIA.COM – “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…”
(QS Al-Isra: 1)
Pada suatu malam yang penuh keberkahan, Nabi Muhammad SAW diberangkatkan oleh Allah SWT dalam sebuah perjalanan luar biasa yang dikenal sebagai Isra Miraj. Peristiwa ini tidak hanya menjadi mukjizat terbesar setelah Al-Qur’an, tetapi juga mengandung pelajaran mendalam bagi umat manusia. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi keajaiban Isra Miraj dan hikmah besar yang terkandung di dalamnya, disertai referensi dari literatur Islam, termasuk dari pandangan Syiah.
Isra: Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa
Isra adalah bagian pertama dari perjalanan Nabi SAW. Dari Masjidil Haram di Mekah, beliau diperjalankan ke Masjidil Aqsa di Palestina dengan buraq, makhluk khusus yang dianugerahkan Allah untuk perjalanan ini. Dalam perjalanan tersebut, Nabi diperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Allah di bumi.
Kitab Bihar al-Anwar karya Allamah Majlisi mencatat bahwa Nabi SAW melewati berbagai tempat yang menjadi saksi sejarah umat manusia, seperti tempat tinggal Nabi Ibrahim dan Nabi Musa. Dalam perjalanan ini, Nabi juga bertemu dengan para malaikat yang sedang memanjatkan doa bagi umatnya. Perjalanan ini mengajarkan bahwa umat Islam memiliki hubungan yang erat dengan risalah para nabi sebelumnya, menjadikan Islam sebagai penyempurna agama-agama terdahulu.
Miraj: Pendakian ke Sidratul Muntaha
Bagian kedua dari perjalanan ini adalah Miraj, yaitu pendakian Nabi Muhammad SAW ke langit. Dalam kitab Bihar al-Anwar, disebutkan bahwa Nabi SAW naik ke langit melalui bimbingan Malaikat Jibril. Di setiap lapisan langit, Nabi bertemu dengan nabi-nabi sebelumnya, termasuk Nabi Adam, Nabi Yusuf, Nabi Musa, dan Nabi Ibrahim.
Puncak dari Miraj adalah pertemuan Nabi dengan Allah SWT di Sidratul Muntaha, sebuah tempat yang tak terjangkau oleh akal manusia. Di sinilah Nabi SAW menerima perintah shalat lima waktu. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ja’far al-Sadiq, disebutkan:
“Ketika Rasulullah SAW berada di Sidratul Muntaha, Allah memerintahkannya shalat sebagai bentuk penghambaan dan kedekatan dengan-Nya.”
(Bihar al-Anwar, jilid 18, hal. 282)
Pesan Besar di Balik Isra Miraj
Isra Miraj mengandung pesan yang mendalam, terutama tentang pentingnya shalat sebagai tiang agama. Shalat bukan hanya ritual, tetapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat. Dalam kitab Al-Kafi karya Kulayni, Imam Ali al-Ridha berkata:
“Shalat adalah mi’raj bagi orang beriman. Melalui shalat, seorang hamba dapat merasakan kedekatan dengan Allah seperti halnya Rasulullah SAW dalam perjalanan Miraj.”
(Al-Kafi, jilid 3, hal. 265)
Selain itu, peristiwa ini juga mengajarkan tentang pentingnya keteguhan iman. Meskipun banyak yang meragukan kebenaran Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW tetap teguh menyampaikan risalahnya. Sikap ini mengajarkan kita untuk tetap percaya pada janji Allah, meskipun dunia meragukan kita.
Relevansi Isra Miraj dalam Kehidupan Umat Islam
Isra Miraj adalah pengingat bahwa hidup ini adalah perjalanan spiritual menuju Allah. Dalam setiap langkah, seorang Muslim diajak untuk mengingat Allah melalui shalat dan ibadah lainnya. Kisah ini juga menekankan bahwa mukjizat Allah tidak terbatas oleh ruang dan waktu, memberikan harapan bagi siapa saja yang merasa lemah atau tidak berdaya.
Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita diajak untuk menjadikan Isra Miraj sebagai inspirasi dalam kehidupan sehari-hari. Perjalanan ini mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah adalah tujuan utama hidup, dan shalat adalah sarana terbaik untuk mencapainya.
Penutup: Sebuah Ajakan untuk Merenung
Peristiwa Isra Miraj bukan sekadar kisah sejarah, melainkan panggilan spiritual bagi setiap Muslim. Ketika kita bersujud dalam shalat, kita sebenarnya sedang menapaki jejak perjalanan Nabi Muhammad SAW menuju Allah. Mari jadikan shalat sebagai “mi’raj” kita, sebuah perjalanan spiritual yang menghubungkan hati dengan Sang Pencipta.
“Tidakkah kamu ingin merasakan kedekatan dengan Allah seperti Rasulullah SAW? Jadikan shalat sebagai pertemuanmu dengan-Nya.”
Referensi:
- Al-Qur’an, Surat Al-Isra ayat 1.
- Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 18, hal. 282.
- Kulayni, Al-Kafi, jilid 3, hal. 265.
