SHIAHINDONESIA.COM – Baru-baru ini sedang ramai sebuah pernyataan salah satu calon wakil gubernur DKI Jakarta 2024 nomor urut 01 tentang hendaknya orang yang menganggur menikah dengan seorang wanita yang kaya, lalu ia mencontohkannya pada Siti Khadijah yang kaya raya menikah dengan Rasulullah Saw. Lantas, hal ini memicu kegaduhan di kalangan warga net. Pernyataan tersebut dinilai tidak tepat dan tidak sesuai, sebab secara tersirat, ia hendak mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw., yang nganggur di masa bujang, menikahi Siti Khadijah yang kaya raya.
Jika yang dimaksud demikian, tentu tidaklah elok perumpaan tersebut dinisbahkan pada diri seorang nabi, sekalipun ia berniat bercanda, sebab dengan segudang kemuliaan yang Nabi Muhammad Saw miliki, ia tidak dapat dibandingkan dengan kita, yang manusia biasa. Artikel tidak sedang bermaksud menyudutkan cawagub ini atau memprovokasi untuk membencinya. Sama sekali tidak. Artikel ini bermaksud hendak menguraikan bagaimana kehidupan Nabi Muhammad sebelum menikah dengan Khadijah, berdasarkan riwayat-riwayat yang tercatat dalam mazhab Syiah, dengan tujuan meluruskan pandangan yang salah tersebut.
1. Kejujuran dan Reputasi Sebagai Al-Amin
Sejak masa mudanya, Nabi Muhammad dikenal dengan gelar Al-Amin, yang berarti “yang dapat dipercaya.” Gelar ini diberikan bukan tanpa alasan, melainkan karena sifat beliau yang selalu jujur, dapat diandalkan, dan amanah dalam setiap tindakannya. Bahkan sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad telah menunjukkan integritas yang tinggi, menjadi teladan dalam kejujuran di masyarakat Mekah.
Ulama Syiah seperti Allamah Tabataba’i dalam tafsirnya Al-Mizan, menekankan bahwa kejujuran Nabi Muhammad yang tanpa cela telah dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat, baik dari kalangan keluarga maupun masyarakat luas. Kejujuran dan ketulusan inilah yang kemudian menarik perhatian Khadijah, seorang pengusaha sukses, yang mencari seseorang dengan integritas tinggi untuk mengelola bisnisnya.
2. Keterlibatan dalam Perdagangan
Nabi Muhammad tidak pernah “menganggur.” Dalam tradisi dan riwayat Syiah, disebutkan bahwa sejak usia muda, beliau telah menunjukkan kecakapannya dalam berdagang. Imam Ja’far al-Shadiq, salah satu keturunan Rasulullah yang dihormati dalam tradisi Syiah, menyebutkan bahwa Nabi Muhammad bekerja dengan giat dan tidak hanya mengandalkan belas kasihan orang lain. Beliau aktif dalam perdagangan, terutama dalam ekspedisi dagang ke Syam dan Yaman, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.
Kegiatan perdagangan ini dilakukan dengan kejujuran dan ketelitian, sehingga beliau mendapatkan reputasi yang luar biasa di kalangan para pedagang. Nabi Muhammad dipercaya untuk menjalankan usaha orang lain, termasuk Khadijah, yang akhirnya melihat ketulusan, kecerdasan, dan kesungguhan beliau dalam berdagang.
3. Kemampuan Kepemimpinan dalam Menyelesaikan Konflik
Riwayat lain juga menekankan bahwa sebelum menikah, Nabi Muhammad telah menunjukkan kepemimpinan yang bijaksana dalam berbagai situasi. Salah satu peristiwa penting yang tercatat adalah ketika masyarakat Mekah berselisih tentang peletakan Hajar Aswad di Ka’bah. Perselisihan ini hampir berujung pada perpecahan di antara suku-suku di Mekah. Nabi Muhammad yang pada saat itu masih muda dipercaya untuk menjadi penengah. Beliau menyelesaikan perselisihan ini dengan cara yang sangat bijaksana dan adil, di mana semua pihak merasa puas.
Riwayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah memiliki kemampuan kepemimpinan yang hebat bahkan sebelum masa kenabiannya. Ulama seperti Syekh Mufid dalam kitab Kitab al-Irshad menjelaskan bahwa peristiwa ini menjadi bukti nyata akan kebijaksanaan dan kehati-hatian Nabi Muhammad dalam bertindak.
4. Kesederhanaan Hidup dan Pengabdian Sosial
Dalam mazhab Syiah, tercatat pula bahwa Nabi Muhammad hidup dalam kesederhanaan. Beliau tidak hanya giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga dikenal karena sikap sosialnya yang peduli terhadap fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Beliau tidak mengejar kekayaan untuk diri sendiri, melainkan menyalurkan penghasilannya untuk membantu orang lain. Ulama Syiah seperti Allamah Hilli dalam Nahj al-Haqq mencatat bahwa Nabi Muhammad selalu siap membantu orang lain, tanpa pamrih, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi nabi.
Kisah kehidupan beliau yang sederhana, rendah hati, dan penuh dengan kedermawanan ini menjadi inspirasi bagi banyak orang. Bahkan ketika bekerja untuk Khadijah, beliau dikenal sebagai pribadi yang tetap rendah hati dan berintegritas tinggi.
5. Keterlibatan dengan Khadijah dalam Bisnis
Ketika Khadijah mendengar tentang kejujuran dan reputasi Nabi Muhammad, beliau mengutusnya untuk memimpin kafilah dagangnya ke Syam. Dalam perjalanan ini, Nabi Muhammad menunjukkan kecakapannya dalam mengelola perdagangan dengan sangat sukses. Kejujuran dan keberhasilannya membuat Khadijah semakin yakin akan kualitas Nabi Muhammad. Ini menjadi salah satu alasan kuat mengapa Khadijah akhirnya melamar beliau, meskipun Khadijah berasal dari kalangan yang sangat kaya dan terhormat di Mekah.
Dalam riwayat Syiah, hubungan Nabi Muhammad dan Khadijah bukanlah hubungan seorang “pengangguran” dengan seorang kaya raya. Justru, Nabi Muhammad menunjukkan kemampuannya dalam memimpin, berdagang, serta integritas yang luar biasa, yang kemudian menjadi daya tarik utama bagi Khadijah. Hal ini diungkapkan oleh Syekh Abbas Qummi dalam kitab Muntaha al-Aamal, di mana beliau menulis bahwa hubungan ini terbentuk atas dasar kepercayaan dan penghormatan terhadap kejujuran dan integritas Nabi.
Meluruskan Pandangan yang Keliru
Riwayat-riwayat dari ulama Syiah jelas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang bekerja keras, memiliki reputasi tinggi, dan dihormati oleh masyarakat sebelum menikah dengan Khadijah. Pandangan yang menyebut bahwa beliau “menganggur” atau tidak memiliki kegiatan produktif sebelum pernikahannya dengan Khadijah adalah pandangan yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan fakta sejarah yang ada.
Kisah hidup Nabi Muhammad sebelum menikah adalah cerminan kemandirian, kejujuran, dan kerja keras. Sebagai Al-Amin, beliau adalah pribadi yang selalu dipercaya, dihormati, dan aktif dalam masyarakat, jauh dari gambaran “pengangguran” yang sempat disampaikan. Mari kita memahami sejarah dengan benar, agar tidak salah kaprah dan menghormati keagungan pribadi beliau yang telah memberi inspirasi kepada seluruh umat manusia sepanjang masa.
