Bagaimana Seharusnya Mendidik Anak yang Benar?

SHIAHINDONESIA.COM – Membangun generasi emas, yang akhir-akhir ini sering kali kita dengar dari pejabat negara adalah sebuah pekerjaan rumah, yang tidak hanya menjadi perhatian bagi pemerintah, malainkan—yang paling mendasar dan menjadi tonggaknya adalah—juga tugas orang tua itu sendiri. Iya, orang tualah yang menjadi titik mula dari pembangunan generasi emas ini, sebuah generasi yang berpengetahuan luas, berkarakter dan memiliki jiwa dedikasi yang tinggi, terlebih untuk orang lain dan syukur-syukur negara juga bangsa.

Lantas, apa yang mesti disiapkan oleh orang tua atau calon orang tua untuk mencetak generasi emas di masa mendatang? Apakah orang tua cukup hanya dengan mendukung anaknya dari sisi materi saja, yang meliputi sandang, pangan dan papan? Atau ada unsur lain, yang kudu dimiliki oleh orang tua? Iya, kita acapkali melihat bahwa seorang anak yang hanya dipenuhi dari sisi jasmani dan materi, ketika tumbuh dewasa melenceng dari nilai-nilai kemanusiaan dan agama.

Sayangnya, di tengah masyarakat modern, sebagian orang tua hanya fokus pada kebutuhan materi sang anak, seperti fokus dengan asupan makanan, pakaian dan bahkan fasilitas lainnya, seperti handpone maupun kendaraan. Kebutuhan itu, semacam perihal yang wajib yang harus orang tua miliki. Dan ketika semua sudah terpenuhi, mereka merasa sudah selesai dengan tanggung jawabnya sebagai orang tua.

Padahal, orang tua juga hendaknya ‘hadir’ di kehidupan anak-anaknya, sebab bagaimanapun, mereka butuh pelukan hangat dan usapan lembut orang tuanya. Dengan begitu, anak merasa diperhatikan dan disayang oleh orang tua, terutama di masa-masa awal pertumbuah seorang anak.

Dokter spesialis anak RSIA Bunda Jakarta dr. I Gusti Ayu Nyoman Pratiwi Sp.A mengatakan kehadiran orang tua menjadi sangat penting pada satu tahun pertama kehidupan anak untuk menciptakan kelekatan atau bonding satu sama lain. Kehadiran orang tua di tengah pertumbuhan anaknya tentunya memiliki beberapa manfaat, di antaranya adalah meningkatkan hubungan emosional anak dengan orang tuanya, meningkatkan kualitas komunikasi anak, meningkatkan kepercayaan diri dan kebahagiaan sang anak.

Jadi, yang perlu digarisbawahi, bahwa selain pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan pada sang anak, juga perlu kehadiran anak, yang menyagkut pada keubutuhan kejiawaan sang anak, yang pada usianya membutuhkan kehadiran anak. Karena secara fitrah, seorang anak dari kedalaman jiawanya butuh pada hangatnya pelukan orang tua, dan elusan lembut tangan mereka.

Orang Tua Sekolah Pertama Bagi Anak

Sejatinya, orang tua adalah sekolah pertama bagi seorang anak. Bukan hanya sebatas pada ibu, tetapi juga seorang ayah. Kedunya memiliki peranan yang cukup penting dalam mendidik anak. Karena sekolah, maka orang tua harus memiliki bekal yang cukup dalam mendidik anak, dan menjadi teladan bagi mereka. Bahkan, jauh sebelum lahir kedunia dan masih di dalam kandungan, orang tua harus sudah mendidik calon anaknya. Hal ini senada dengan sebuah hadis Rasulullah, tentang pentingnya mendidik seorang anak, sekalipun belum lahir ke dunia nyata.

:اَدِّبُوا اَوْلادَكُمْ فى بُطونِ اُمَّهاتِهِمْ. قيلَ: وَكَيْفَ ذلِكَ يا رَسُولَ اللّه ِ؟ فَقالَ:بِاِطْعامِهِمُ الْحَلالَ؛

“Didiklah anak-anak kalian (ketika) masih di dalam perut ibu mereka”

“Bagaimanakah cara mendidiknya wahai Rasulullah?”

“Dengan memberikan makanan yang halal (pada ibunya).” (Jung-ge Mahdawi, hal. 132).

Kalau kita pernah mendangar peribahasa “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, maka praktiknya kita bisa melihat—salah satunya—pada orang tua dan anak. Umumnya, ketika orang tuanya memiliki nilai-nilai kebaikan dan karakter yang baik, maka hal itu juga akan menurun pada anaknya, dan sebaliknya jika kedua orang tua tidak memiliki nilai-nilai kebaikan, maka boleh jadi sang anak juga akan meniru orang tuanya. Oleh karenanya, orang tua atau mereka yang akan menjadi orang tua, mestinya memiliki bekal ilmu dan mental yang cukup dalam mendidik anak, sehingga mereka layak dilabeli ‘sekolah’ pertama bagi anak-anaknya.

Cara terbaik dan paling mungkin dilakukan oleh orang tua untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anaknya adalah dengan memperlihatkan perilaku orang tua saat melakukan nilai-nilai kebaikan, kepada anak-anaknya. Karena, anak kecil lebih cenderung suka meniru gerak-gerik perilaku orang tuanya. Maka, ini adalah cara yang efektif yang dapat orang tua lakukan kepada kepada anaknya, daripada dengan cara mendikte dengan lisan.

Mendidik anak tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan yang bersifat meteri dan jasmani, dengan memberi makanan dan uang jajan serta fasilitas lainnya seperti, maianan, gadget atau sepeda listrik  dan sepeda motor bagi mereka yang sudah sudah tumbuh besar. Yang jauh lebih penting dari itu semua adalah peran orang tua dalam memberikan kebutuhan ruhaniahnya, meliputi kebutuhan spiritual dengan mengajarkan kepada mereka ilmu dan keagamaan dan akhlak serta karakter yang baik.

Kebutuhan yang penulis sebutkan di atas mestinya haru saling berjalan beriringan. Jika tidak, dan salah satunya tidak ada—terlebih untuk kebutuhan ruhaniahnya—maka bukan suatu hal yang mustahil jika sang anak tumbuh dewasa berbalut dengan karakter dan kepribadian yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan agama. Untuk melahirkan generasi emas, maka kuncinya ada di orang tua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top
Exit mobile version