SHIAHINDONESIA.COM – Banyak hal yang telah disebutkan tentang tugas dan tanggung jawab kaum Syi’ah pada masa kegaiban, bahkan dalam beberapa kitab, termasuk kitab Mikyal al-Makarim fi Fawaid ad-Dua al-Qa’im, disebutkan ada delapan puluh kewajiban bagi mereka, yang menunggu kedatangan Imam Mahdi.
Namun, karena penjelasan tentang semua kewajiban yang menjadi tanggung jawab kaum Syi’ah di zaman gaib tidak dapat kami sebutkan semuanya di halaman yang terbatas ini, maka kami menyebutkan beberapa kewajiban yang paling penting, di antaranya sebagai berikut.
Mengenal Wali Allah dan Imam Zamannya
Tugas pertama dan terpenting yang menjadi tanggung jawab setiap Syiah adalah mencari tahu (mengenal) tentang Imam Mahdi. Masalah ini begitu penting sehingga disebutkan dalam banyak hadis yang diriwayatkan oleh Syiah maupun Sunni yang datang dari Nabi Muhammad Saw., dan para Imam Maksum As. Dalam sebuah riwayat dikatakan, “Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan tidak mengenali Imam pada masanya, ia meninggal seperti meninggalnya orang jahil.”
Dan dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Kulaini dari Imam Muhammad Baqir as, yang berbunyi sebagai beriku, “Barangsiapa meninggal dunia tanpa memiliki Imam, maka ia meninggal dunia dalam kebodohan, dan barangsiapa meninggal dalam keadaan mengetahui Imamnya, sebelum atau sesudah berdirinya kepemimpinan [dari keluarga Muhammad, saw], maka tidak akan membuatnya rugi., dan siapa pun yang meninggal saat mengetahui Imamnya, adalah seperti orang yang bersamanya di dalam tenda Al-Mahdi.”
Menanti kedatangan Imam Mahdi berarti menunggu kekuatan Islam, dan kita harus berusaha agar kekuatan Islam terwujud di dunia, sehingga hal-hal yang diperlukan untuk menyambutnya dapat kita persiapkan dari sekarang.
Jihad Terbaik di Antara Umatku Adalah Menanti Kedatangan Al-Mahdi
Memperhatikan isi doa yang ditekankan untuk dibaca pada masa keghaiban Imam Mahdi, membuat kita mengenal wali Allah. Seperti yang kita baca dalam salah satu doa terkenal dan terpercaya yang dikutip dari Syekh Shaduq dalam kitab Kamal al-Din, yang berbunyi sebagai berikut,
“Ya Allah, kenalkanlah diri-Mu kepadaku, jika kamu tidak memperkenalkan diri-Mu kepadaku, maka aku tidak akan mengenal nabimu. Ya Allah, kenalkanlah aku dengan nabi-Mu, jika Kamu tidak mengenalkanku pada nabi-Mu, aku tidak akan tahu walinya. Ya Allah kenalkanlah aku dengan wali-Mu, karena jika kamu tidak mengenalkannya padaku, aku akan tersesat dari agamaku. Ya Allah, Jangan biarkan aku mati dalam kebodohan dan jangan jadikan hatiku menyimpang [dari kebenaran] setelah Engkau memberi petunjuk padaku…”
Imam Sadiq As. mengatakan tentang tingkat terendah tentang pengetahuan Imam: “Tingkat pengetahuan terendah tentang Imam adalah [mengetahui] Imam, bahwa dia setara dengan Nabi, kecuali dalam derajat kenabian. Imam adalah pewaris Nabi, dan menaatinya berarti menaati Tuhan dan Rasulullah, dan seseorang harus tunduk kepadanya dalam segala hal dan mengikuti kata-kata serta perintahnya…”
Penulis kitab Mikyal al-Makarim fi Fawaid ad-Dua al-Qa’im yang ditegaskan dalam riwayat-riwayat di atas, dijelaskan sebagai berikut: Tidak diragukan lagi, bahwa maksud dari mengenal para imam maksum, adalah sebab agar kita terselamatkan dari keyakinan atheis dan tindakan yang menyesatkan.
Dengan pengenalan yang sedmikian rupa, setidaknya ada dua hal yang dapat kita peroleh: Pertama, mengenal pribadi Imam berdasarkan nama dan silsilahnya, dan yang kedua, mengetahui sifat-sifat serta memperoleh kedua ilmu tersebut merupakan salah satu kelaziman yang paling utama.
Tentu saja hal kedua yang disebutkan di atas lebih penting di zaman kita sekarang dan sebenarnya pengenalan inilah yang dapat menjadi sumber pengaruh dan transformasi dalam kehidupan individu dan sosial mereka yang sedang menunggu. Karena jika seseorang benar-benar mengetahui sifat-sifat Imam Zaman (Imam Mahdi) serta peran dan kedudukannya di alam semesta, dan merupakan kebutuhan kita akan keberadaanya, maka dia tidak akan pernah terlupakan dari ingatan kita.
Satu hal yang harus diingat di sini adalah bahwa mengenal Imam Mahdi dan para imam lainnya tidaklah ada perbedaan. Jika seseorang menyadari tanggung jawabnya atas mereka, dan mengenal mereka dengan baik, maka dia pasti akan sampai untuk mengenal Imam Mahdi yang sesungguhnya.
Bersambung…
