Meresapi Keutamaan Bulan Ramadan: Melejitkan Diri Menjadi Hamba Terbaik di Mata Allah (2)

Lanjutan artikel sebelumnya,…

4. Mencegah dari Bisikan Setan. Imam Ali pernah bertanya kepada Nabi Muhammad, “Wahai Rasulullah, apa yang membuat setan menjauh dari kita?” Nabi Saw. menjawab, “Berpuasa akan membuat wajahnya menjadi hitam, dan bersedekah akan menghancurkan punggungnya.” (20)

Oleh karena itu, berpuasa adalah bentuk pencegahan dari bisikan setan dan jin, dan mencegah rasa was-was dari mereka.

5. Menyamakan Antara Si Kaya dan Miskin. Orang yang berpuasa ketika lapar dan haus, mereka belajar akan arti kemiskinan, dengan tujuan agar mereka bersegera membantu mereka yang kurang mampu. Imam Hasan Askari mengakatan tentang sebab kewajiban puasa, “Agar orang-orang kaya mencicipi perihnya rasa lapar, dan agar mereka membantu orang-orang yang kurang mampu. (21)

6. Nilai Moral dari Berpuasa . Terkait dengan sebab diwajibkannya berpuasa, Imam Ali Ar-Ridho berkata, “Agar seseorang mencicipi rasa lapar dan haus dan supaya ia merasakan kebutuhannya ketika ia di akhirat.

Akibat orang berpuasa adalah agar menjadi orang yang khusuk, tawasuk, yang diberi pahala, meminta ridho Allah dan pahala-Nya, menjadi orang yang Arif dan penyabar. Sehingga, dengan begitu ia akan mendapatkan pahala di sisi Allah Swt.

Puasa menjadikan seseorang berhati-hati dengan hawa nafsu. Puasa juga menjadi penasihat bagi mereka, sehingga mereka fokus melaksanakan tugas dan kewajibannya, dan menunjukkan jalan bagi mereka untuk meraih pahala, dan semua itu dibarengi dengan rasa haus dan lapar sebagaimana yang dirasakan oleh orang-orang yang miskin di dunia, sehingga hasilnya adalah mereka dapat memberikan apa yang mereka miliki kepada orang yang tidak mampu dan miskin.” (22)

Adanya Malam-malam Lailatul Qadar

Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Di malam ini, para malaikat turun ke muka bumi atas izin Allah, dan menentukan nasib manusia sepanjang hidupnya. (23).

Adanya Malam Lailatul Qadar di bulan ini adalah nikmat besar yang diberikan Allah kepada umat Nabi Muhammad Saw., di mana nasib manusia mulai dari kehidupan, kematian, rezeki dan lainnya ditentukan di bulan ini untuk satu tahun ke depan. Dan di malam ini, manusia diajak untuk berpikir dan merenung serta mengevaluasi perjalanan hidupnya selama satu tahun ke belakang.

Imam Ali Ar-Ridho berkata, “Malam kesembilan belas adalah malam penentuan (nasib), malam kedua puluh satu untuk peneguhan, dan malam kedua puluh tiga adalah untuk pengesahan (penandatanganan).” (25)

Musim Semi Al-Qur’an

Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan. Membacanya di bulan ini memiliki pahala yang sangat banyak. Di dalam riwayat disebutkan, bahwa Ramadan adalah musim seminya Al-Qur’an, sebagaimana Imam Shadiq berkata, “Segala sesuatu memiliki masa bersemi, dan musim seminya Al-Qur’an ada pada bulan Ramadan.” (26).

Jelas, telah disebutkan keutamaan dan pahala bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadan. Jika orang yang memahami hakikat berpuasa dan bulan Ramadan, maka semua akan terlihat di dalam perbuatan dan perkataannya.

Sebagaimana disebutkan di dalam riwayat tentang adab-adan berpuasa, yaitu orang-orang yang hanya membaca Al-Qur’an tanpa mengamalkannya, atau mereka yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan hausnya saja, dan dikarenakan dosa yang dia perbuat, maka efek dari berpuasa tidaklah akan berarti di dalam dirinya, dan nuansa bulan Ramadan yang penuh dengan spiritualitas yang tinggi pun tak juga memberikan dampak positif pada dirinya. Maka, semua itu harus dihilangkan oleh orang yang hendak berpuasa, agar puasnya memberikan dampak dan kesan yang positif.

Sebagaimana Nabi Muhammad Saw. berkata kepada seseorang yang berpuasa, namun sering berkata-kata kotor kepada budaknya, “Bagaimana mungkin seseorang berpuasa, sementara di saat yang sama, Anda sering mengejek budak Anda. Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus saja. Bahkan, ada hal lain yang harus dijaga di saat puasa, yaitu menahan mulut untuk tidak berkata kotor, sebab hal itu akan menyebabkan puasa menjadi tidak ada manfaatnya bagi Anda. Betapa sedikit orang (benar-benar) berpuasa, dan betapa banyak orang yang merasakan lapar.” (27).

Imam Ali Zainal Abidin bermunajat kepada Allah di saat memasuki bulan Ramadan, “Ya Allah, melalui puasa ini, bantulah kami, agar kami terhindar dari maksiat. Dan kami bisa berbuat sesuai yang membuat-Mu bangga, sehingga telinga-telinga kami tidak mendengar kata-kata yang tak bermanfaat; kedua mata kami tak tertarik untuk melihat sesuatu yang melenakan; tangan-tangan kami tidak mengerjakan hal-hal yang haram; kaki-kaki kami tidak melangkah ke tempat yang dilarang; serta tidak masuk makanan ke perut-perut kami, kecuali  yang halal di mata-Mu; serta mulut-mulut kami tidak berkata, kecuali sesuatu yang Engkau firmankan kepada kami.” (28)

Oleh karenanya, di bulan Ramadan yang mulia, seluruh anggota badan kita (jiwa dan raga) haruslah terjaga dari hal-hal yang haram. Dengan ikhlas, kita harus bertawakal dan bertawasul kepada Ahlulbait Nabi Saw, dan mengamalkan perintah-perintah dan hukum yang ada di dalam Al-Qur’an; menjauhi dosa dan bertobat yang sebenar-benarnya, menghidupkan malam-malam Lailatul Qadar.

Rasakanlah keutamaan bulan Ramadan, untuk mencapai kesempurnaan. Dan jadikan bulan ini sebagai momen untuk membentuk diri, dan tanamkan semua manfaat dari berpuasa dan bulan Ramadan ke dalam diri kita, sehingga dampak (positif) itu dapat bertahan di diri kita hingga Ramadan berikutnya.

Refrensi:

1. Mufradat Al-Fadz Al-Quran, Ragib Isfahani, hal. 209, penerbit Darul Kitab Al-Arabi, Beirut-Lebanon

2. Biharul Anwar, Allamah Majlisi, jil. 55, hal. 341, penerbit Yayasan Al-Wafa’, Beirut-Lebanon

3. Al-Kafi, Kulaini, jil. 2, hal, 628, penerbit Darul Kutub Al-Islamiyah, Tehran-Republik Islam Iran

4. Wasa’il As-Syiah, Syekh Hur Amuli, jil. 2, hal. 628, Darul Kutub Al-Islamiyah, Teheran-Republik Islam Iran

5. …

6. QS. Al-Baqarah: 185

7. Wasa’il Asy-Syiah, Syekh Hur Amuli, jil. 10, hal. 313, Penerbit Darul Kutub Al-Islamiyah, Teheran-Republik Islam Iran

8. Al-Kafi, Kulaini, jil. 2, hal. 628, penerbit Darul Kutub Al-Islamiyah, Teheran-Republik Islam Iran

9. QS. Al-Baqarah: 185

10. QS. Al-Baqarah: 183

11. Ibid

12. Mizanul Hikmah (terjemahan bahasa Persia), Muhammad Rey Syahri, penerjemah: Hamid Reza Syaikhi, jil. 7, hal. 3207, penerbit Darul Hadis, Qom-Republik Islam Iran

13. Ibid. Hal. 3209

14. Ibid

15. Ibid

16. Ibid

17. Ibid

18. Ibid

19. Tafsir Nemuneh (Tafsir Al-Amtsal), Makarim Syirazi, jil. 1, hal. 631, penerbit Darul Kutub Al-Islamiyah, Teheran-Republik Islam Iran

20. Mustadrak Al-Wasa’il, Muhaddist Nuri, jil. 7, hal. 154, penerbit Yayasan Alulbait, Qom Republik Islam Iran

21. Mizanul Hikmah, ibid

22. Ibid, hal. 3209

23. QS. Al-Qadr: 1-5

24 Tafsir Al-Mizan, Allamah Thaba’thaba’I, jil. 18, hal. 132/ jil. 19, hal. 90 penerbit Ismailiyan, Qom-Republik Islam Iran

25. Wasa’il Asy-Syiah, Ibid, jil. 10, hal. 354

26. Wasa’il As-Syiah, ibid, jil. 6, hal. 203

27. Al-Kafi, ibid, jil. 4, hal. 87

28. As-Shahifah Sajjadiyah, hal. 186, penerbit Al-Hadi, Qom-Republik Islam Iran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top
Exit mobile version