SHIAHINDONESIA.COM – Mendiang Syekh Abdul Karim Ha’iri pendiri Hauzah Ilmiah Qom adalah pribadi yang sangat berakhlak. Sisi lahiriah dan batiniahnya terlihat sama. Ia pun sangat mencintai para thalabeh (santri). Ia sangat memiliki kecenderungan terhadap dunia keilmuan.
Ketika menghadiri sebuah acara pengajian, ia tak memilih tempat yang paling terdepan untuk duduk. Di mana pun ada tempat yang kosong dan sesuai, di situlah ia duduk.
Seorang ulama besar pernah menukil perkataan Imam Khomeini, dengan mengatakan, “Bahwa di Arak (kota di Iran) acap kali terjadi perselisihan di sebuah pengajian soal tempat duduk. Syekh Ha’iri di saat pergi ke sana (Arak), ia mencoba menghilangkan tradisi buruk itu.
Tiap kali ia memasuki ruang pengajian, di mana pun ada tempat yang kosong, di situ jugalah ia duduk. Dengan cara ini, ia berhasil menghilangkan kebiasaan buruk yang terjadi di pengajian (rebutan tempat duduk).”
Salah satu murid Imam Khomeini pernah berkata, “Ia tak pernah memilih-milih makanan saat hendak makan, apakah makanan itu enak atau tidak. Ia makan seadanya.”
Mengutip perkataan dari Imam Khomeini,
“Pasar di kota Arak merupakan pasar terpanjang di Iran. Rumah beliau (Syekh) Ha’iri berada di ujung pasar, sementara tempat ia mengajar berada di awal pintu masuk pasar. Ketika ia berangkat untuk mengajar, ia menenteng jubahnya dengan tangannya.
Ia tak menggantungkan jubahnya di pundaknya (sebagaimana yang dilakukan kebanyakan ulama kala itu). Jika ada orang yang mencarinya, ia berhenti sejenak di tengah perjalanan. Jika orang itu bertanya tentang sesuatu atau butuh sesuatu kepadanya, maka ia pun menjawabnya dan memenuhi apa yang dibutuhkannya, kemudian ia melanjutkan berjalan kaki sendiri.”
