SHIAHINDONESIA.COM – Filosofi Keghaiban
Filosofi kegaiban Imam Mahdi belum sepenuhnya kita ketahui, namun terkadang beberapa hikmahnya disebutkan dalam hadis-hadis yang akan dikemukakan di bawah ini, dan hikmah-hikmah lainnya akan terungkap setelah kemunculannya. Sebab alasan perbuatan Nabi Khidir tidak diketahui oleh Nabi Musa, kecuali ketika mereka berpisah satu sama lain.
1. Takut Dibunuh
Nabi Muhammad Saw, bersabda, “(Ada kalanya bagi seorang hamba menyembunyikan diri (ghaib).” Lalu salah satu sehabat bertanya, “Kenapa wahai Rasulullah?” “Karena takut akan dibunuh,” jawabnya.
Tentu saja, ini bukan ketakutan secara individu, tapi ketakutan bahwa bumi akan kosong dari seorang pemimpin. Ada yang berkata: Tidakkah Allah berkuasa melindungi Imam? Kami berkata: Tuhan melingkupi segala sesuatu, namun Dia menghendaki urusan kehidupan dilakukan sesuai dengan cara yang normal, dan jika bertentangan dengan ini, maka semua itu terlepas dari ujian dan ikhtiar manusia.
2. Terjaga dari Berbaiat kepada Orang-orang Zalim
Imam Mahdi tidak akan terpaksa untuk berjanji setia kepada penguasa sampai ia menampakkan diri dan diperintah untuk bangkit, seperti para kakeknya, salah satunya Imam Hasan As, yang yang ber-taqiyah untuk berbaiat kepada khalifah kala itu. Imam Hassan As berkata,
“Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi menyembunyikan kelahirannya dan menyembunyikan wujudnya, sehingga dia tak akan berbaiat kepada siapapun dengan bertaqiyah.
3. Berjaraknya Seorang Mukmin yang Sejati
Imam Shadiq As setelah mengungkapkan penundaan dalam hukuman kaum Nabi Nuh, mengatakan:
“Keghaiban Al-Qaim (Imam Mahdi) akan berlangsung lama sampai kebenaran menjadi jelas dan keimanan yang murni dibersihkan dari kegelapan, dan setiap Syiah memilikinya. sifat najis dan takut padanya.”
bahwa jika dia sadar akan kemudahan dan keamanan yang luas dalam perjanjian bersama al-Qaim, seseorang masih berperilaku munafik, dan dengan kemurtadan mereka, maka yang suci dan yang kotor akan dipisahkan satu sama lain lainnya”.
4. Kesiapan Dunia (Menyambut Kemunculannya)
Salah satu hikmah dari keghaiban Imam Mahdi adalah persiapan intelektual manusia menyambut kedatangan Imam Mahdi. Karenanya, itu cara dan sikap yang mulia, yaitu dengan memperhatikan hal-hal lahiriah dan ia memerintah tidak berdasarkan apa yang terlihat, tetapi berdasarkan fakta dan tanpa bertaqiyah dan toleransi. Ia akan merealisasikan hak-hak dan menolak ketidakadilan, menegakkan keadilan sejati serta melaksanakan syariat Islam.
Memikul Tampuk Kepemimpinan Sejak Masa Kanak-Kanak
Perlu diketahui bahwa tidak semua orang mempunyai kemampuan dan bakat untuk mencapai kedudukan kenabian dan kepemimpinan, namun ia harus sampai pada derajat kemanusiaan yang tertinggi agar layak berkomunikasi dengan dunia ghaib dan menerima ilmu serta memahaminya.
Untuk mencapai kompetensi dan kelayakan tersebut, terkadang harus melalui langkah-langkah sulit, namun terkadang bakat dan keistimewaan tersebut sudah ada dalam diri manusia. Dikarenakan keutamaan yang melekat pada diri para imam yang maksum, Allah telah memberi mereka posisi Imamah (kepemimpinan), terkadang mereka mencapai itu pada usia muda.
Sebagaimana Yesus berbicara kepada orang-orang dalam ketika masih di dalam buaian dan memperkenalkan dirinya sebagai seorang nabi yang memiliki kitab. Dalam Surah Maryam, ayat 29 dan ayat-ayat lainnya, disebutkan bahwa Yesus mencapai kedudukan sebagai nabi sejak masa kecilnya.
Imam Muhammad Al-Jawad juga berusia sembilan atau tujuh tahun ketika ayahnya syahid, dan karena alasan ini, imamah-nya diragukan oleh sebagian kaum Syiah. Namun ketika ia (mampu) menjawab banyak pertanyaan, keraguan tersebut hilang. Begitu pun dengan Imam Ali Al-Hadi yang telah mencapai derajat imamah pada usianya yang keenam tahun lebih lima bulan.
Di antara anak-anak pada umumnya, kadang-kadang terlihat orang yang jenius pada usia mereka, dalam hal bakat dan daya ingat, serta daya pemahaman, mereka lebih unggul daripada pria berusia empat puluh tahun. Banyak contoh yang dapat disebutkan dalam konteks ini.
Seorang bernama Fazel Hindi telah menyelesaikan semua ilmu logika dan ilmu yang bersifat tekstual sebelum usia tiga belas tahun dan ia berhasil menulis sebuah buku sebelum usia dua belas tahun. Thomas Jung, salah satu ilmuwan Inggris, dianggap sebagai anak ajaib saat masih kecil. Dia belajar membaca sejak usia dua tahun dan mulai belajar matematika secara mandiri pada usia delapan tahun.
Seyyed Mohammad Hossein Tabatabai, pada usia tiga tahun, menghafal seluruh Al-Qur’an dan Nahj al-Balaghah beserta konsep-konsepnya.
Di akhir bagian ini kita mengacu pada hadis Imam Baqir yang mengatakan, “Imam Mahdi lebih muda daripada kami, dan ia adalah orang yang lebih ghaib daripada kami.”
Bersambung..
