Bingkisan Kasih: Menelusuri Kisah Keikhlasan Ulama dalam Mengubah Takdir Tetangga

SHIAHINDONESIA.COM – Jawad bin Muhammad Huseini adalah salah satu murid mendiang Seyyed Bahrul Ulum dari Riyadh. Almarhum Nouri dalam bukunya “Kalameh Tayyebeh” menceritakan sebuah kejadian tentang orang mulia ini.

Suatu malam, Seorang Alim, Seyyed Jawad Amuli sedang makan malam, ketika itu seseorang mengetuk pintu. Seyyed mengetahui bahwa Kobandeh adalah pelayan Sayyid Bahrul Ulum. Jadi dia buru-buru mendatanginya. Pelayan itu berkata kepada Sayyid, “Mereka telah menyiapkan makan malam untuk Bahrul Ulum dan dia sedang menunggumu.

Lalu, Seyyed Jawad bergegas pergi. dan masuk ke rumah Bahrul Ulum.

Ketika kedua mata Sayyed Bahrul Ulum tertuju pada muridnya itu, dia  berkata: “Apakah kamu tidak malu dan tidak takut kepada Tuhan?”

Dia menjawab,  “Apa yang terjadi?”

Dia berkata: Seorang laki-laki dari saudara-saudaramu hidup setiap siang dan malam dengan kurma Zahedi (semacam kurma kualitas rendah), dan itu pun hasil dari hutang. Dan tujuh hari telah berlalu, di mana mereka belum mencicipi nasi dan gandum serta tidak makan apa pun selain kurma Zahedi.

Hari ini dia pergi membeli kurma untuk makan malam, penjual kelontong menjawab dan mengatakan bahwa hutangmu bertambah. Jadi dia kembali dengan tangan kosong. Dia dan keluarganya tidak makan malam malam ini, dan Anda bersenang-senang dan makan, sementara rumahnya terhubung ke rumah Anda. Anda mengenalnya dan dia adalah seseorang (yang tidak asing bagimu)

Seyyed Jawad berkata, “Demi Tuhan, saya tidak mengetahui kondisinya.”

Bahrul Ulum berkata,

“Sekiranya Anda mengetahui keadaannya lalu makan malam, maka Anda termasuk orang Yahudi dan kafir. Aku marah kepadamu karena Anda tidak mengetahui keadaan tetanggamu. Jadi ambillah bungkusan makanan ini dan bawa bersama pelayanku ke pintu rumahnya, dan katakan padanya bahwa menyenangkan bagi kita untuk makan malam bersama malam ini.

Dan letakkan amplop ini—yang  terdapat sejumlah uang di dalamnya, di bawah karpet atau tikarnya—dan tinggalkan sebuah bekal ini untuknya dan jangan sampai ia kembalikan lagi. Itu adalah bingkisan yang mewah, di mana makanan, daging dan berbagai makanan lezat ada di dalamnya.”

“Aku tidak akan makan malam sampai kamu kembali dan memberitahuku apakah dia sudah makan malam dan kenyang atau belum,” ujar Sayyid Bahrul Ulum.

Sejurus kemudian Sayyid Jawad dan seorang pelayan itu pergi ke rumah orang beriman itu dengan membawa bingkisan makanan. Ia pun mengambil bingkisan itu dari seorang pelayan itu lalu pelayan itu pulang.

Sayyid Jawad mengetuk pintu rumah orang fakir itu, lalu keluarlah orang itu.

“Aku ingin menikmati makan malam bersamamu malam ini,” katanya.

Ketika mereka hendak menyantap makan malam, laki-laki fakir itu berkata: “Wahai Tuan, ini bukan makanan Anda, karena ini adalah makanan yang enak, sehingga orang Arab tidak bisa memasak makanan enak seperti itu, dan saya tidak akan memakannya sampai Anda memberi tahu saya dari mana Anda membawanya. Sayyid mendesaknya dengan segala cara agar dia memakannya, namun dia tidak makan. Pada akhirnya, dia harus menceritakan kisahnya.”

Lelaki fakir itu berkata,  “Demi Allah, tidak ada seorang pun yang tahu tentang kondisiku. Ini adalah hal yang aneh dari Anda.”

Sayyid Jawad pun menceritakan kisah yang sesungguhnya, yang membuatnya datang ke rumah orang itu dengan membawa bingkisan makanan dan sejumlah uang.

* Al-Sayyid Muhammad Mahdi b. Murtada al-Burujirdi al-Tabataba’i Bahr al-‘Ulum lahir di Karbala pada hari Idul Fitri ( 1 Syawal ) tahun 1155 / 29 November 1742. Ayah dan nenek moyangnya adalah ulama terkenal. Ibu bapaknya merupakan keturunan Muhammad Taqi al-Majlisi , oleh karena itu Bahr al-‘Ulum menyebut Majlisi Pertama sebagai nenek moyangnya dan Muhammad Baqir al-Majlisi sebagai pamannya.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top
Exit mobile version