SHIAHINDONESIA.COM – Dalam ayat yang mulia, Allah berfirman: “Sesungguhnya bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hambaKu yang shaleh.” (QS. Al-Anbiya: 105).
أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
Menurut Abu Ja’far As., mereka adalah pengikut Imam Mahdi As pada akhir zaman. Hal ini didukung oleh banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda bahwa jika hanya tersisa satu hari lagi dalam kehidupan dunia, Allah akan memperpanjang hari itu hingga membangkitkan seorang yang saleh dari keluarganya.
Orang itu akan mengisi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya penuh dengan kezaliman.
Imam Abu Bakr Ahmad bin al-Husain al-Bayhaqi menyampaikan banyak riwayat yang menegaskan hal ini dalam kitabnya tentang kebangkitan dan hari kiamat. Dalam salah satu hadis, Nabi Muhammad Saw. menyatakan bahwa tidak akan ada keadaan kecuali sulit, tidak akan ada manusia kecuali serakah, tidak akan ada dunia kecuali kemunduran, dan tidak akan berdiri waktu kiamat kecuali di atas keburukan manusia. Hanya Isa bin Maryam yang akan muncul sebagai Mahdi.
Sebagian dari hadis ini diceritakan oleh Anas bin Malik, yang menyatakan bahwa Nabi Saw. bersabda bahwa tidak akan ada Mahdi kecuali Isa bin Maryam, yang menunjukkan bahwa Mahdi adalah dari keturunan Nabi.
Begitu juga, sebagian riwayat menegaskan bahwa kedatangan Mahdi terkait dengan kondisi dunia yang sulit. Hadis ini menunjukkan bahwa menunggu Imam Mahdi Afs bukanlah sekadar menunggu, melainkan persiapan untuk tindakan.
Dengan menganalisis konsep dasar “menunggu”, kita dapat memahami berbagai narasi yang telah disampaikan sebelumnya mengenai kabar gembira dan peristiwa yang menanti.
Ini menjelaskan mengapa para penantian yang sejati seperti Imam Mahdi, baik di bawah naungan atau pimpinan-Nya, atau dalam perjuangan dan konflik, dianggap sebagai tanda-tanda fase yang berbeda dari jihad untuk kebenaran dan keadilan, sesuai dengan kesiapan dan tingkat penantian individu.
Kembali pada ayat Al-Qur’an yang disebutkan di awal, “Sesungguhnya bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hambaKu yang shaleh.” Ini menggambarkan bahwa pemberian kekuasaan di tangan orang-orang yang saleh akan membawa keadilan dan keseimbangan setelah sebelumnya dipenuhi dengan ketidakadilan dan penindasan.
Dengan demikian, menunggu kemunculan Imam Mahdi (alaihis salam) adalah bentuk kesiapan total. Bagi yang berlaku zalim dan tertindas, menunggu pemimpin yang akan mengisi bumi dengan keadilan membutuhkan perubahan total dalam persiapan dan perilaku mereka.
Begitu juga bagi pasukan yang bersiap-siap untuk menghadapi pertempuran melawan mereka yang melanggar pemerintahan keadilan, persiapan ini tidak hanya melibatkan kesiapan fisik dan pertempuran, tetapi juga memerlukan pembaruan moral dan spiritual.
Dalam konteks ini, menunggu Imam Mahdi menggambarkan harapan akan revolusi besar yang mencakup semua aspek kehidupan manusia: politik, budaya, ekonomi, dan etika.
Ini adalah revolusi yang menyeluruh, yang bertujuan untuk membangun dunia yang lebih baik dan lebih adil.
Munculnya Imam Mahdi adalah tanda dari keberhasilan perjuangan tersebut, di mana individu dan kelompok yang menunggu harus mempersiapkan diri secara holistik.
Ketika kita merenung pada hakikat menunggu, kita menyadari bahwa yang benar-benar menunggu kemunculan Imam Mahdi (alaihis salam) sebenarnya tengah menanti revolusi yang akan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.
Ini adalah revolusi politik, budaya, ekonomi, dan etika yang seimbang dengan tantangan dan hasil yang dihadapi. Dalam pandangan ini, menunggu adalah tindakan dan kesiapan yang mengharuskan individu untuk berubah, memperbaiki diri, dan mengembangkan kualitas dan keterampilan yang diperlukan untuk berkontribusi pada pemerintahan yang adil dan sejahtera.
Dengan demikian, menunggu Imam Mahdi (alaihis salam) bukanlah kegiatan pasif. Sebaliknya, itu adalah tindakan kesiapan total, mencakup perbaikan moral, persiapan fisik, dan kesiapan mental untuk menghadapi tantangan besar.
Bagi mereka yang menanti, ini adalah persiapan untuk suatu revolusi, untuk membangun dan mempertahankan pemerintahan global yang bersatu.
Dalam perspektif ini, kita dapat melihat bahwa setiap tindakan kesiapan, pembangunan diri, dan persiapan untuk menantikan kemunculan Imam Mahdi memiliki tingkat yang berbeda.
Setiap individu yang berada dalam posisi kepemimpinan, seperti yang diinginkan oleh pemerintahan yang benar, tidak bisa hanya bersikap acuh tak acuh.
Tempat ini bukanlah milik siapa saja yang tidak sadar atau tidak peduli, tetapi bagi mereka yang benar-benar layak menduduki posisi itu dan memiliki kepentingan dan kepentingan yang sesuai.
Dengan demikian, orang yang membawa senjata dan bertempur di bawah komando revolusi melawan mereka yang melawan pemerintahnya, pemerintahan damai, adil, dan penuh kasih, harus memiliki kesiapan spiritual, intelektual, dan bela diri yang tinggi.
Untuk lebih memahami dampak nyata dari menunggu kemunculan Imam Mahdi (alaihis salam), kita dapat merinci klarifikasi berikut:
Menunggu Berarti Kesiapan Penuh:
- Jika Seseorang Adalah Zalim atau Dianiaya: Bagaimana mungkin saya menunggu pribadi yang darahnya akan menjadi racun bagi pedangnya jika saya adalah penindas atau terzalimi?
- Jika Seseorang Tercemar dan Najis: Bagaimana saya bisa menunggu revolusi yang akan menyalakan percikan di tempat-tempat najis dan tercemar jika saya adalah bagian dari ketidakbersihan tersebut?
Tentara yang menunggu menghadapi pertempuran besar harus bekerja untuk meningkatkan kesiapan tempur individu mereka dan menyalakan semangat revolusi. Mereka harus memperbaiki setiap kelemahan dalam diri mereka.
Ketika kita memperhatikan bahwa orang-orang yang menunggu kedatangan pembebas dunia ini sebenarnya menantikan revolusi besar yang mencakup seluruh spektrum perubahan manusia.
Kita dapat memahami bahwa mereka menantikan revolusi yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah manusia. Ini adalah revolusi politik, budaya, ekonomi, dan etika yang seimbang dan holistik, membawa keadilan kepada seluruh umat manusia.
Kesimpulan:
Maka, dapat kita lihat bahwa menunggu Imam Mahdi bukan sekadar tindakan pasif. Sebaliknya, itu adalah bentuk kesiapan total untuk menyongsong revolusi besar yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.
Ini adalah panggilan untuk perubahan, pembaruan, dan kesiapan mental dan fisik.
Para pengikut Imam Mahdi (alaihis salam) tidak hanya menunggu, tetapi mereka juga sedang mempersiapkan diri untuk tindakan dan kontribusi yang besar dalam membangun dunia yang lebih adil dan sejahtera.
Revolusi ini bukanlah sekadar janji masa depan, tetapi suatu kepastian yang menantikan kontribusi aktif dan kesiapan dari setiap individu yang menanti.
Semua tindakan, kesiapan, dan pembangunan diri adalah langkah-langkah menuju realisasi pemerintahan global yang benar dan adil di bawah pimpinan Imam Mahdi (alaihis salam).
*Artikel ini diolah dari artikel asli yang bisa dilihat di sini.
