Tanya Aqidah: Benarkah Kita Bisa Melihat Tuhan?

SHIAHINDONESIA.COM – Di dalam kerumitan hidup, pertanyaan-pertanyaan tentang makna eksistensi dan keberadaan Tuhan sering menghantui pikiran manusia. Apakah kita benar-benar dapat memahami hakikat Tuhan, ataukah keberadaannya akan selalu menjadi misteri yang tak terpecahkan?

Dalam artikel ini, kita akan membahas sebuah hadis yang mengisyaratkan bahwa kita bisa melihat Allah. Apakah hadis ini benar? Mari kita bahas!

Pertanyaan:

Dulu, Nabi Muhammad Saw. pernah mengatakan, “Kamu akan bisa melihat Tuhanmu seperti melihat bulan pada malam purnama, tanpa kesulitan.” Ini adalah hadis yang dikenal dan tidak ada keraguan tentang keasliannya, tidak ada yang meragukan. Bagaimana kita menanggapi hadis ini?

Jawaban:

Hadis ini berasal dari perawi yang memiliki kecacatan, yaitu Qais bin Abi Hazim, yang pada akhir hidupnya mengalami masalah mental namun terus menyampaikan hadis-hadis.

Kecacatan perawi seperti ini membuat hadisnya menjadi diragukan dan harus ditolak, karena tidak bisa dijamin bahwa dia bisa menyampaikan informasi dengan benar dalam kondisinya yang kurang sehat.

Pendekatan ini untuk menerima atau menolak hadis harus dianggap sebagai prinsip yang penting bagi mereka yang mengetahui latar belakang perawi dan tidak mengetahui dari mana dia mendapatkan informasi.

Jika kita anggap bahwa Qais bisa dianggap kredibel, tetap saja ada keraguan karena dia terkenal dengan menyebarkan fitnah dan memiliki sikap permusuhan terhadap Amirul Mukminin As.

Dia bahkan pernah mengatakan, “Saya melihat Ali bin Abi Thalib berdiri di mimbar Kufah dengan mengatakan, ‘Berangkatlah untuk mendukung kelompok yang tersisa dari golongan-golongan lainnya.’ Oleh karena itu, saya membenci dia hingga hari ini.” Ini adalah indikasi kecacatan yang tidak diragukan lagi.

Tetapi, jika kita terima hadis ini, mungkin maksudnya adalah pengetahuan tentang Tuhan, sebagaimana diindikasikan oleh kata “melihat” dalam bahasa Arab yang sering digunakan dalam arti ‘pengetahuan.’

Ini diperjelas dalam beberapa ayat Al-Qur’an, seperti Surah Al-Fajr: 6, Al-Fil: 1, dan Ya Sin: 77. Para ahli bahasa Arab juga menggunakan istilah “mengetahui” dan “melihat” secara bersamaan, menunjukkan bahwa hadis ini dapat diartikan sebagai

“Kamu akan mengetahui Tuhanmu dengan pengetahuan yang pasti, sebagaimana melihat bulan pada malam purnama tanpa kesulitan.”

Tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa pengetahuan, jika diartikan sebagai “melihat,” akan melebihi dua objek, karena dalam bahasa Arab, “melihat” bisa diberlakukan pada satu objek.

Oleh karena itu, hadis ini mungkin dimaksudkan dalam arti ini, yaitu bahwa kamu akan mengetahui Tuhanmu dengan pengetahuan yang pasti, sebagaimana melihat bulan pada malam purnama tanpa kesulitan.

Namun, jika hadis ini dimaksudkan sebagai kabar baik bagi orang mukmin dan bukan bagi orang kafir, maka penafsiran seperti itu dibatalkan.

Kami berpendapat bahwa kabar baik dalam hadis ini secara hakiki hanya berlaku bagi orang-orang mukmin, karena kabar baik dalam arti sejati adalah menghilangnya kesengsaraan bagi mereka yang murni dan suci.

Hal ini tidak berlaku bagi orang-orang kafir, karena pengetahuan mereka tentang Allah akan menyebabkan penurunan martabat dan penghinaan bagi mereka, sementara penderitaan dan hukuman mereka akan berlanjut.

Oleh karena itu, jika diketahui bahwa hadis ini menyampaikan berita baik, maka penafsiran Anda harus dibatalkan.

Sumber:

Tanzihul Anbiya’, Abul Qasem Ali bin Husain Al-Musawi, hal. 127-129

*Artikel ini diolah dan diterjemahkan dari artikel asli yang bisa dilihat di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top
Exit mobile version