Tanya Aqidah: Benarkah ‘Mushaf Fathimah’ adalah Al-Quran Syiah?

SHIAHINDONESIA.COM – Saat kita menelusuri sejarah Islam, kita kadang-kadang dihadapkan pada klaim dan cerita kontroversial yang menciptakan ketidakpastian. Salah satu isu yang telah menjadi pusat perdebatan adalah seputar “Mushaf Fathimah” As.

Beberapa penulis telah menciptakan cerita yang membingungkan, menyebutnya sebagai kitab Fatihmah, padahal, menurut hadis-hadis, kitab tersebut tidak berisi ayat-ayat Quran, melainkan informasi yang diterima oleh Fathimah As. dari berbagai berita seputar pemimpin umat Islam.

Dalam tulisan ini, kita akan menyelidiki dan mengklarifikasi klaim yang mengelilingi Mushaf Fathimah, mencari pemahaman yang lebih jelas dan terperinci mengenai isi sebenarnya.

Pertanyaan:

Beberapa kali atau sering kita dengar bahwa ada tuduhan atau klaim mengenai Al-Quran yang dipegang oleh umat Syiah. Beberapa oknum mengatakan bahwa Al-Quran yang dibaca dan dipelajari umat Syiah bukanlah Al-Quran yang diturunkan untuk Rosulullah, melainkan Mushaf Sayyidah Fathimah As. Bagaimana kita menanggapi hal ini?

Jawaban:

Beberapa penulis telah membuat kehebohan palsu tentang pengikut Ahlulbait mengklaim bahwa mereka punya al-Quran lain yang disebut “Mushaf Fathimah As.

Mereka menyebut kitab Fathimah sebagai mushaf karena sebenarnya tidak berisi ayat-ayat Quran. Bahkan, hadis-hadis menegaskan bahwa Mushaf Fathimah tidak mengandung ayat-ayat Quran, melainkan hanya berisi informasi yang diterima dari berita kepemimpinan umat Islam.

Bahkan, Imam Ja’far al-Sadiq, ketika Muhammad dan Ibrahim, anak-anak Imam Hasan memberontak melawan penguasa Abbasiyah, beliau mengatakan: “Tidak ada nama mereka dalam kitab ibu mereka Fathimah, di dalamnya hanya ada orang yang memimpin umat ini.”

Di sekolah khulafaur rasyidin, mereka menyebut kitab Sibawayh dalam ilmu nahwu sebagai “Al-Kitab” (kitab). Selain itu, istilah “Al-Mushaf” tidak pernah muncul dalam Al-Quran atau hadis Nabi Muhammad Saw.

Penggunaan istilah “Al-Kitab” untuk menyebut Al-Quran dapat ditemui dalam Al-Quran sendiri, seperti dalam firman Allah:

{ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ} (البقرة/2)

{أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ} (البقرة/85)

{وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ} (البقرة/89)

{وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ} (البقرة/129)

{وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ} (البقرة/151)

Istilah ini digunakan dalam puluhan ayat lainnya. Jadi, jika seseorang mengatakan bahwa kitab Sibawayh memiliki ukuran dua kali lipat dari kitab Allah, ini bukan berarti bahwa kitab Sibawayh lebih besar dari kitab Allah. Tidak ada keberatan terhadap istilah ini dari pengikut Ahlulbait.

Akhirnya, pernyataan-pernyataan seperti ini dimanfaatkan oleh lawan Islam dan dijadikan alat untuk mencela Al-Quran. Semoga Allah membimbing kita semua agar mampu menghentikan kebingungan semacam ini.

Intinya, Al-Quran yang ada di tangan umat Muslim saat ini adalah Al-Quran yang Allah lengkapi wahyu-Nya kepada penutup para nabi pada akhir kehidupannya. Para sahabat setelah kewafatannya mengumpulkannya, menyalinnya, dan menyebarkannya di antara umat Islam.

Dan dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, saya berani mengatakan bahwa tidak pernah ada dalam sejarah sejak saat itu hingga saat ini sebuah Quran yang bertambah atau berkurang satu kata pun.

Tidak ada perbedaan dalam hal ini di antara mereka (para ulama dan sahabat), meskipun perbedaan hanya terjadi dalam tafsiran Quran dan penafsiran ayat-ayat yang memiliki kemiripan. Ini karena keduanya diambil dari hadis dan perbedaan dari aspek ini sudah menjadi hal yang lumrah.

Sumber:

Ma’alimul Madrasatain, Sayyid Murtadho Askari, jil. 2, hal. 34-36

*Artikel ini telah diterjemahkan dan diolah dari artikel asli yang bisa dilihat di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top
Exit mobile version