SHIAHINDONESIA.COM – Dalam perspektif Islam, khususnya dalam ajaran Syiah dan Sunni, harapan akan kemunculan Imam Mahdi menciptakan aura misteri dan antisipasi yang mendalam. Bagi penganut Syiah, Imam Mahdi diyakini sebagai pemimpin yang dinantikan, sementara dalam tradisi Sunni, kehadiran beliau juga menjadi bagian penting dari keyakinan eskatologi.
Dua perspektif ini, meskipun memiliki kesamaan dalam mengantisipasi kemunculan Imam Mahdi, kadang-kadang dipahami dan diterjemahkan dengan nuansa yang unik. Dalam pembahasan ini, kita akan menyelami perbedaan dan kesamaan pandangan antara Syiah dan Sunni mengenai sosok yang dinantikan ini.
Kaum Muslim telah sepakat perihal kemunculan Imam Mahdi di akhir zaman untuk menumpaskan kebodohan, kezaliman, dan kediktatoran, serta menyebarkan keadilan dan kebenaran, dan tak lupa menyelimuti alam dengan keagamaan, meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya.
Dengan izin Allah Swt, Imam Mahdi dipercaya untuk menyelamatkan alam dari kesyirikan, menghilangkan budaya-budaya kejahilan, mematahkan aturan-aturan yang dibuat berdasarkan hawa nafsu, memutus tali rasisme, serta menghapus faktor-faktor kebencian dan permusuhan yang menyebabkan perpecahan umat.
Dengan merealisasikan kemunculan Imam Mahdi, Allah Swt telah menepati janji-Nya pada orang-orang Mukmin yang dapat dipahami dari ayat:
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ- النور – 55
Yang artinya:
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Surah Nur: 55.
Juga dengan ayat:
وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ – القصص – 5
Yang artinya:
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)” (QS. Qashas: 5)
Juga dengan ayat:
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى ٱلزَّبُورِ مِنۢ بَعْدِ ٱلذِّكْرِ أَنَّ ٱلْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِىَ ٱلصَّٰلِحُونَ – الانبياء – 105
Yang artinya:
“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. Anbiya’: 105)
Dan umat akan menyaksikan zaman keemasan setelah kehadiran Imam Mahdi, karena nantinya tidak ada lagi yang mampu berdiri tegak di atas bumi selain bendera Islam, dan tidak ada lagi tempat kecuali terdengar darinya kalimat syahadah.
Banyak sekali nash-nash (teks-teks) sahih dan kabar-kabar yang diriwayatkan dari jalur Sunni atau Syiah yang menekankan kepemimpinan Ahlulbait As, dan buku sejarah telah secara gamblang memaparkan jumlah mereka yaitu sama seperti para petinggi atau pemuka Bani Israil, dan yang menarik adalah pemimpin terakhir tersebut ialah orang yang akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kebenaran, sebagaimana bumi telah dipenuhi oleh kezhaliman dan ketidakadilan.
Pun banyak hadis yang menyebutkan bahwa imam terakhir adalah ia yang disebut sebagai Al-Mahdi Al-Muntazhor, dan sebagian perawi dari Sunni juga telah meriwayatkan hal tersebut dalam berbagai macam kitab sahih mereka, seperti Tarmidzhi, Abi Daud, Ibnu Ma’jah, dan selainnya.
Sebagian riwayat mereka juga disanadkan atau dinisbatkan pada Ahlulbait dan sebagian sahabat Nabi Muhammad Saw., seperti Imam Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amar, Ummu Salamah, Abi Said Al-Khudri, Abi Hurairah, dan selainnya.
Mari kita sebutkan beberapa riwayat tersebut:
Yang pertama: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari sanadnya pada Rasulullah Saw, bahwa beliau berkata, “Kalau nantinya tidak ada yang tersisa di bumi ini selain kezaliman, maka Allah Swt akan mengutus seorang laki-laki dari Ahlulbaitku yang akan memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana bumi ini telah dipenuhi oleh kezaliman.”
Teks bahasa Arabnya:
روي الامام الاحمد في مسنده عن رسول الله صلى الله عليه و اله: ( لو لم يبق من الدهر الا يوم لبعث الله رجلا من اهل بيتي يملؤها عدلا كما ملئت جورا)
Yang kedua: Abu Daud menyatakan bahwa dari Abdillah bin Mas’ud bahwa Rasulullah pernah berkata, “Dunia tidak berakhir sampai seseorang dari Ahlulbaitku memerintah (memimpin) Arab dan namanya seperti namaku.”
Teks bahasa Arabnya:
أخرج ابو داود عن عبد الله بن مسعود ان رسول الله صلى الله عليه و اله قال: ( لا تنقضي الدنيا حتى يملك العرب رجل من اهل بيتي, يواطئ اسمه اسمي)
Yang ketiga: Abu Daud menyatakan bahwa dari Ummu Salamah bahwa ia berkata, “Aku pernah mendengar Rosulullah berkata, “Al-Mahdi dari keluarga ialah yang lahir dari keturunan Fatimah.”
Teks bahasa Arabnya:
اخرج ابو داود عن أم سلمة قالت: سمعت رسول الله صلى الله عليه و اله يقول: (المهدي من عترتي من ولد فاطمة)
Yang keempat: At-Tirmidzi menyatakan bahwa dari Ibnu Mas’ud bahwa Rosulullah pernah berkata, “Akan datang seorang lelaki dari ahlul baitku dan namanya seperti namaku.”
Teks bahasa Arabnya:
اخرج الترمذي عن ابن مسعود ان رسول الله قال: (يلي رجل من اهل بيتي يواطئ اسمه اسمي)
Dan riwayat lain yang mendukung atau menopang hal ini yang sudah mencapai tingkat tawatur, karena Doktor Abdul Baqi menyatakan bahwa, “Sebenarnya masalah sesungguhnya bukan masalah satu hadis atau dua hadis, atau satu perawi atau dua perawi. Sesungguhnya masalah ini bersumber dari kumpulan hadis yang mencapai 80 lebih di mana hadis-hadis ini telah dinukil oleh ratusan perawi dan penulis kitab-kitab shohih.
Karenanya, para ulama hadis dan aqidah sepakat bahwa Al-Mahdi yang dibicarakan dalam riwayat itu adalah Al-Mahdi yang sama yang dipahami oleh Syiah dan Sunni, namun, perbedaan di antara keduanya hanyalah masalah kelahiran.
Syiah berpendapat bahwa Al-Mahdi adalah imam keduabelas yang lahir di kota Samira, 255 H dan disembunyikan (baca: ghaib) setelah kepergian ayahnya pada 240 H dan hal ini didukung oleh banyak sekali nash-nash yang tidak memberi kemungkinan adanya keraguan dan syubhat. Bahkan sebagian ulama Sunni sepakat akan hal ini dengan mengatakan bahwa Al-Mahdi telah lahir dan dia bernama Muhammad bin Hasan Al-Askari.
Kendati demikian, banyak dari ulama Sunni berpendapat bahwa Al-Mahdi akan lahir di akhir zaman. Terlepas dari itu, sesungguhnya yang mengetahui isi dalam rumah ialah pemilik rumah tersebut dan dalam hal ini, yang mengetahui kebenarannya seyogyanya adalah Ahlulbait As. dan siapapun yang merujuk pada riwayat-riwayat ahlul bait tentu akan mendapatkan kebenaran, yaitu putra Imam Hasan Al-Askari telah lahir dan dia bernama Al-Mahdi.
Baik, kita akan menyebutkan beberapa ulama Sunni yang selaras dengan pendapat Syiah bahwa Imam Mahdi telah lahir:
- Muhammad bin Tholhah bin Muhammad Al-Qursyi Asy-Syafi’I dalam kitabnya Matholib As-shuul fi Manaqib Al Rosul.
- Muhammad bin Yusuf bin Muhammad Al-Kanzi Asy-Syafi’I dalam kitabnya Al-Bayan fi Akhbari Sohibu Zaman.
- Nuruddin Ali bin Ash-Shibag Al-Maliki dalam kitabnya Al-Fushul Al-Muhmah fi Ma’rifat Al-Aimmah.
- Sibtu Ibnu Al-Jawzi dalam kitabnya Tadzkirah Al-Khawas.
Dan lainnya dari ulama-ulama Sunni. Nama-nama mereka telah disebutkan dalam kitab A’yan Asy-Syiah yang mencapai tiga belas nama.
Lalu dikatakan bahwa banyak dari ulama Sunni yang meyakini keberadaan (baca: kelahiran) Al-Mahdi dan kita telah menyebutkan beberapa di antaranya. Bila ada di antara para pembaca yang ingin mengetahui lebih lanjut akan hal itu, kalian bisa merujuk pada kitab Al-Burhan ala wujud sohib zaman atau Risalah Al-Astar karya Syehk Husain An-Nuri.
Penulis artikel: Syehk Ja’far Subhani.
Artikel ini adalah artikel terjemahan dari artikel yang tercantum di https://ar.al-shia.org/%d8%b8%d9%87%d9%88%d8%b1-%d8%a7%d9%84%d8%a5%d9%85%d8%a7%d9%85-%d8%a7%d9%84%d9%85%d9%87%d8%af%d9%8a/
