Syubhat:
SHIAHINDONESIA.COM – Sebagian orang melemparkan sebuah syubhat (keragu-raguan), dengan mengatakan, kenapa nama para Imam Ahlulbait tidak ada di dalam al-Quran? Jika kepemimpinan para imam Syiah merupakan perkara ilahi, maka seharusnya Allah membawakan nama-nama mereka di dalam al-Quran, sehingga tidak akan timbul sebuah perpecahan (di tengah umat Muslim).
Jawab:
Dari syubhat ini, mereka hendak mengatakan, jika seandainya nama para imam Ahlulbait disebutkan di dalam al-Quran, maka perselisihan akan hilang di tengah-tengah kita, yang mana pada dasarnya klaim itu tidaklah mendasar.
Betapa banyak fenomena yang terjadi dengan menyebutkan dua belas nama imam, di mana hal itu tetap saja menimbulkan pembunuhan keturunan para Imam, sehingga mereka mencegah kehadiran generasi para imam Ahlulbait di muka bumi ini.
Perlu kita tahu, bahwa metode pengajaran al-Quran adalah dengan menjelaskan secara universal dan dasar-dasar kandungannya. Adapun detail penjelasan dari al-Quran, itu adalah tanggung jawab Nabi Saw., untuk menjelaskannya. Ia (Nabi Muhammad Saw) tidak saja diperintah untuk membacakan al-Quran, melainkan juga menjelaskan (isi al-Quran).
Sebagaimana Allah Swt. berfirman,
وَاَنۡزَلۡنَاۤ اِلَيۡكَ الذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ اِلَيۡهِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُوۡنَ
“Dan Kami turunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (QS. An-Nah:44)
Bisa kita perhatikan ayat di atas, bahwa selain membacakan al-Quran, Nabi Saw., juga menjelaskan hakikat-hakikat yang terkandung di dalam al-Quran. Oleh karena itu, tujuan dari diutusnya nabi adalah mengeluarkan ekstensi yang ada di dalam al-Quran. Salah satu metode penjelasan al-Quran adalah dengan menyebutkan atau mengenalkan pribadi-pribadi di dalamnya.
Mengenalkan Seseorang dengan Namanya
Kadang, al-Quran mengenalkan seorang pribadi dengan sebuah namanya, sebagaimana yang termaktub di dalam surah Saft ayat enam:
وَمُبَشِّرًۢا بِرَسُولٍ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِى ٱسْمُهُۥٓ أَحْمَدُ
“…dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (QS. Saft: 6)
Mengenalkan Pribadi Seseorang dengan Bilangan
Terkadang, jika kondisi memungkinkan, seseorang dikenalkan melalui sebuah bilangan.
وَلَقَدْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَۚ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيْبًاۗ
“Dan sungguh, Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengangkat dua belas orang pemimpin di antara mereka.” (QS. Al-Maidah: 12)
Mengenalkan Pribadi Seseorang dengan Sifat
Terkadang, pribadi-pribadi yang ada di dalam al-Quran disinggung melalui sifat-sifatnya, sebagaimana Rasulullah Saw. dikenalkan di dalam Injil dan Turat dengan sifatnya.
“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (QS. Al-A’raf: 157).
Dengan memperhatikan penjelasan di atas, maka seseorang yang mengharapkan penyebutan nama para Imam Ahlulbait atau nama-nama ayah dan ibu mereka, maka itu adalah harapan yang tidak tepat, sebab kadang penyebutan nama maupun sifat dan bilangan pribadi yang hendak dikenalkan, itu bergantung dengan kondisi yang ada (di saat diturunkannya al-Quran).
Penyebutan Nama di Dalam al-Quran Bukan Solusi Mencegah Perpecahan
Akhir kalam, kita kembali diingatkan, sebagaimana yang telah disinggung, bahwa al-Quran adalah sebuah pondasi. Maka jika seseorang mengharapkan secara detail tulisan yang ada di dalam al-Quran, tentu hal itu tidak masuk akal.
Salat, puasa, zakat merupakan tingkatan ibadah wajib tertinggi di dalam Islam, di mana kesemuanya dibahas secara universal di dalam al-Quran, adapun detail-detailnya, seperti jumlah rakaat salat, tata caranya dan selainnya, semua itu dijelaskan langsung oleh Nabi Saw., Begitupun dengan nama-nama imam Ahlulbait yang tidak disebutkan di dalam al-Quran, namun mereka dapat dipercayai melalaui perkataan dan penjelasan Nabi Saw. Wallahu a’lam bi as-shawab.
