SHIAHINDONESIA.COM – Jarum pendek yang berada di jam terus berjalan, menunjukkan bahwa waktu terus bergulir tanpa henti. Pernah tebersit di benak saya sebuah pertanyaan, “Bisakah Tuhan menghentikan waktu sebentar saja?”
Pertanyaan ini lahir begitu saja saat saya mengalami sebuah kondisi di mana saya merasa sedang hancur lebur tanpa arah. Saya merasa semua masalah yang saya hadapi datang bersamaan tanpa bergantian. Mereka menyerang saya secara membabi-buta, membuat isi kepala saya ramai dan bising.
Saat mengalami itu, ada dorongan untuk kabur dan mencari pelarian untuk menghilangkan kepenatan. Namun, saya teringat bahwa kabur dari masalah bukanlah solusi dalam menyelesaikan masalah, melainkan membuat masalah itu tetap berdiri di ujung sana dan menertawakan saya.
Di sisi yang lain, saya mengetahui bahwa diri saya belum siap untuk menghadapi masalah tersebut. Saya hilang arah, bingung, linglung, dan diam bodoh seperti patung. Akan tetapi, entah kenapa, pada saat itu, ada dorongan dalam diri saya untuk berwudhu alias mensucikan diri.
Tanpa berpikir yang tidak-tidak, saya pun mengambil wudhu dan melakukan dua rakaat sholat sunnah dan saya sengaja bersujud alias menghibahkan diri pada Allah untuk waktu yang cukup lama. Rasanya nyaman dan tenang sekali.
Rasanya hanya ingin terus-menerus menunduk di hadapan-Nya dan berkata padanya, “Hamba-Mu hancur lebur. HambaMu tidak kuat. HambaMu tidak tahu harus apa dan ke mana. Hamba-Mu butuh bantuanMu, Ya Rabb.”
Tidak terasa pipi saya basah oleh air mata.
Sedetik kemudian, saya merasakan satu kelezatan yang tidak bisa saya jelaskan lewat kata-kata. Satu kelezatan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya, yaitu, kelezatan dalam beribadah. Kelezatan tersebut seolah menyadarkan saya bahwa apakah ini yang dimaksud تنعموا بعبادي dalam hadis Imam Shodiq As.
“قال الامام الصادق “عليه السلام
قال الله تبارك ة تعالى: يا عبادي الصديقين تنعموا بعبادتي في الدنيا, فانكم تنعمون بها في الاخرة
Yang artinya, “Imam Shodiq As pernah berkata, “Allah Swt berfirman, ‘Wahai hamba-hambaku yang sholeh, rasakanlah nikmatnya beribadah kepada-Ku di dunia, sehingga kalian akan merasakan kenikmatannya di akhirat.’” (Al-Kafi / 2/ 83 / H 2)
Awalnya saya bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin Allah Swt memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk merasakan kenikmatan beribadah di dunia, sedangkan kita semua tahu bahwa dunia hanya tempat fatamorgana alias kenikmatan yang semu dan tidak nyata?!”
Namun, saat saya merasakan sendiri air mengalir di pipi saya karena mengadu pada-Nya, saya merasa bahwa air mata saya mulai mengikis tembok keegoisan yang ada dalam diri saya, menghancurkan tabir-tabir gelap yang lahir karena maksiat yang telah saya lakukan selama ini, dan menampar keras pipi saya untuk menyadarkan saya bahwa kenikmatan sejati yang dapat kamu rasakan di dunia ini adalah saat kamu sedang bermesraan dengan Allah Swt, mencurahkan segala keresahan dan permasalahan yang ada.
Lewat hadis ini, saya belajar bahwa beribadah pada Allah Swt tidak terikat hanya saat kita salat, namun juga setiap saat. Saya melihat bahwa seakan-akan Allah Swt mengatakan pada hamba-hamba-Nya bahwa Ia rindu ingin bertemu dan berkata, “Kemarilah hamba-hamba-Ku, ceritakan semua permasalahan yang tengah kamu hadapi.
Curahkan semuanya kepada-Ku. Jadikanlah Aku satu-satunya tempat kamu kembali dan berlari. Biarkan kenikmatan berhubungan dengan-Ku menghangatkan jiwa dan ragamu, karena pada dasarnya semua orang akan meninggalkanmu, tapi tidak dengan-Ku.”
Semoga lewat tulisan ini, para pembaca dapat memahami intisari dari sebuah ibadah pada Allah Swt, dapat memahami betapa krusial dan fundamentalnya ibadah pada-Nya, lalu perlahan menapaki perjalanan kehambaan.
