SHIAHINDONESIA.COM – Sayyid Ali Khamenei, yang kini menjadi pemimpin tertinggi (rahbar) Republik Islam Iran, lahir di sebuah keluarga religius pada 19 April 1939/28 Safar 1357 H di kota Masyhad. Ayahnya bernama Sayyid Jawad Khamenei merupakan seorang ulama sekaligus Mujtahid pada masanya. Ibunya adalah Khadijah Mirdamad, yang merupakan perempuan zuhud dan selalu menjunjung tinggi syariat Islam.
Kalau kita runut garis keturunan Sayyid Ali Khamenei, ia berasal dari keturuan orang-orang mulia. Kakeknya, Sayyid Muhammad Husaini merupakan seorang ulama. Ia termasuk murid dari seorang ulama sekaliber Kuh Kamari, Fadil Irwani, Mirza Baqir Syaki dan para ulama lainnya abad ketiga belas Hijriah. Dengan melihat garis keturunan Sayyid Ali Khameni, maka tak heran jika ia juga telah sampai pada maqam yang sekarang ini.
Kita tahu, bahwa leluhur yang mulia tidak serta merta menjadikan keturunanya juga mulia. Dalam sejarah atau di dalam kehidupan manusia, tak sedikit orang tuanya yang memiliki kemuliaan, baik dari sisi ilmu dan kedudukan atau yang lainnya, namun hal itu tak menurun ke anak-anaknya. Yang ada, mereka justru berbanding terbalik dengan sifat yang dimlilki orang tuanya.
Ambil contoh, semua kita tahu bahwa Nabi Nuh adalah manusia yang mulia, lantaran ia nabi. Namun, putranya yang bernama Kan’an justru berbanding terbalik dengan ayahnya. Di sini, kita melihat bahwa nilai-nilai positif yang ada di dalam diri orang tua, tak serta merta dapat menular ke anaknya. Artinya, di sini si anak juga butuh usaha untuk menanamkan nilai positif di dalam dirinya.
Sudah hal yang pasti, bahwa kedudukan tinggi yang diraih oleh Imam Ali Khameni bukanlah karena ia terlahir dari keluarga ulama yang mulia semata, melainkan ada andil dan kerja keras yang ia kerahkan untuk mencapai maqam tersebut. Karenanya, kita perlu melihat kembali bagaimana ia menghabiskan masa kecilnya dengan terus belajar tanpa pernah mengenal rasa lelah.
Menurut informasi yang penulis himpun, Imam Ali Khameni, di usianya yang keempat tahun sudah memulai belajar membaca al-Quran di bawah bimbingan orang tuanya. Di usia-usia anak SD, ia melanjutkan belajar membaca al-Quran bersama dengan para guru Qari’ al-Quran di Masyhad, yang merupakan kota kelahirannya. Di usianya yang kedua belas tahun, ia memulai menjajaki di dunia ilmu agama di sebuah madrasah bernama Sulaiman Khan.
Setelah melalui jenjang pendidikan tingakat awal dan sutuh di hauzah Ilmiah, ia melanjutkan pendidikannya di jenjang yang lebih tinggi untuk program mujtahid, di bawah bimbingan Sayyid Muhammad Hadi Milani. Ia juga sempat belajar di Najaf, lalu kembali lagi ke Masyhad dan melanjutkan pengembaraannya di dunia ilmu agama di kota suci Qom. Enam tahun berselang saat ia menetap di kota suci Qom, ia kembali lagi ke Masyhad mengingat kala itu, ayahnya mengalami sakit dan kepulangannya adalah untuk melayani sang ayah.
Setibanya di Masyhad, selain membantu orang tuanya yang sakit, ia juga membuka kelas dan mengajar. ilmu-ilmu yang diajarkannya tak jauh dari apa yang telah ia dalami selama belajar di hauzah, seperti Usuhl Fikh, dan Hukum Fikih dengan menggunakan kitab Rasail, Makasib dan Kifayah. Selain itu, ia juga mengajarkan tafsir kepada murid-muridnya, hal itu ia lakukan bahkan di saat ia menjabat sebagai presiden Iran kala itu.
Mungkin, kita akan pernah melihat Imam Ali Khameni sekarang tanpa ada guru-guru hebat di baliknya. Merekalah yang memberikan sumbangsih yang begitu banyak dalam kehidupannya. Di antara guru-gurunya adalah, Sayyid Jalil Husaini Sistani yang merupakan guru di dalam bidang ilmu Ushul; Sayyid Jawad Khamenei, yang mengajarkan ilmu Syarh Lum’ah, Rasail, Kifayah dan Makasib; Mirza Muhammad Mudarris Yazdi dan yang lainnya.
Dari mereka pulalah, banyak karya yang lahir dari buah pemikirannya. Puluhan bahkan ratusan karya berupa buku telah lahir dari buah pemikirannya. Salah satu karyanya yang terkenal adalah yang berjudul Manusia Dua Ratus Lima Puluh Tahun (Ensone Dewistu Panjoh soleh), di mana buku ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Hasil ceramanya juga dikumpulkan oleh murid-muridnya dan dijadikan sebuah buku.
Di usianya yang tak lagi muda, yaitu delapan puluh empat tahun, ia masih tetap terlihat gagah. Bahkan ia masih tetap aktif dan produktif dalam memberikan ceramah-ceramah, juga kegiatan yang lainnya seperti membaca, mengkaji dan menulis, dan yang terpenting, hingga kini, ia adalah sosok pemimpin tertinggi di Iran secara khusus dan pemimpin umat Islam Syiah secara umum.
Tentu hal ini membuat dirinya sebagai pribadi yang luar biasa hebat, sebab di usianya yang tak lagi muda, ia masih semangat mengerjakan itu semua. Hal ini memberi pesan kepada anak-anak muda untuk terus memanfaatkan kesempatan di masa mudanya pada hal-hal yang positif. Di dalam ceramah-ceramahnya, ia hampir tidak pernah melewatkan untuk memberikan nasihat kepada anak-anak muda, mengingat di tangan merekalah masa depan dunia ditentukan.
Sisi kepribadiannya tentu dapat dijadikan sebagai panutan yang mengisnpirasi untuk generasi muda demi menyongsong masa depan yang gemilang dan bersinar.
