Kembalilah, Nak… Allah Masih Menunggumu

SHIAHINDONESIA.COM – Seorang pemuda duduk di sudut kelas, menundukkan kepalanya. Matanya kosong, pundaknya lunglai, seolah beban di dadanya terlalu berat untuk ia pikul sendiri. Ia tak berani menatap gurunya, karena ia tahu bahwa dirinya telah jauh dari jalan yang seharusnya ia tempuh.

Sang guru memandangnya dengan penuh kasih. Ia tahu anak ini telah melampaui batas, telah memilih jalan yang berliku, telah melakukan apa yang dulu ia janjikan tak akan ia lakukan. Tapi di balik kesalahannya, di balik segala kehancuran yang ia buat sendiri, ada cahaya kecil yang masih menyala dalam jiwanya. Cahaya harapan.

Guru itu menarik napas, lalu berkata dengan suara lembut, “Nak, apakah kau pikir aku akan membencimu karena kesalahanmu?”

Pemuda itu menggigit bibirnya, menahan gejolak yang sejak tadi berputar dalam dadanya.

“Aku telah berbuat banyak dosa, Ustaz…” suaranya hampir tak terdengar. “Aku telah menghancurkan hidupku sendiri.”

Guru itu tersenyum samar, lalu menggeleng. “Tidak, Nak… Kau belum hancur. Yang hancur hanyalah keyakinanmu pada rahmat Allah.”

Pemuda itu mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca.

“Tapi aku sudah terlalu jauh…”

Guru itu menatapnya dengan penuh kelembutan. “Sejauh apa pun kau pergi, Allah selalu lebih dekat. Sepekat apa pun kegelapan yang menelanimu, cahaya Allah selalu lebih terang.”

Ia meletakkan tangannya di bahu pemuda itu, menatap matanya dalam-dalam, seolah ingin menyentuh hatinya yang telah lama kosong.

“Dengar, Nak… Setiap orang pernah melampaui batas. Setiap manusia pernah terjerumus. Bahkan mereka yang kini kau anggap suci, dulu pun pernah berdosa. Tapi yang membedakan mereka bukanlah apakah mereka berdosa atau tidak, melainkan apakah mereka memilih kembali atau tenggelam lebih dalam.”

Ia menarik napas dalam. Lalu, dengan suara yang bergetar oleh kebijaksanaan, ia mengutip firman Allah:

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Pemuda itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar, dan air matanya mulai jatuh.

“Tapi… aku malu, Ustaz…”

Guru itu tersenyum penuh kasih. “Nak, tahukah kau? Malu adalah tanda bahwa hatimu masih hidup. Rasa sesal itu adalah panggilan Allah agar kau kembali. Jika Allah telah menggerakkan hatimu untuk menyesal, itu artinya Dia masih menginginkanmu.”

Ia menatap pemuda itu lekat-lekat, seolah ingin memastikan kata-katanya benar-benar tertanam dalam jiwanya.

“Allah tidak menutup pintu-Nya. Kau bisa jatuh ribuan kali, tapi Allah akan selalu menunggu kau bangkit kembali.”

Kemudian, dengan suara lirih namun penuh keyakinan, ia membacakan ayat lain:

“Dan barang siapa yang bertaubat dan beramal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
(QS. Al-Furqan: 71)

Pemuda itu mulai terisak. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya.

Sang guru membiarkannya menangis. Ia tahu, itu bukan air mata keputusasaan. Itu adalah air mata seorang hamba yang ingin kembali.

Setelah beberapa saat, pemuda itu mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak lama, ada cahaya kecil di matanya.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Ustaz?” suaranya lemah, tapi ada secercah harapan di sana.

Guru itu tersenyum hangat. “Sujudlah, Nak… Bersihkan hatimu dalam air mata taubat. Berbicaralah pada Allah, karena Dia selalu mendengar. Minta ampunan-Nya, karena Dia selalu mengampuni. Berjalanlah kembali ke arah-Nya, karena Dia telah menunggumu sejak lama.”

Pemuda itu menatapnya, lalu mengangguk pelan. Ia mengusap air matanya, dan dengan hati yang lebih ringan, ia bangkit menuju tempat wudhu.

Sang guru tersenyum dalam diam. Ia tahu, satu jiwa telah kembali.

Dan di langit, para malaikat telah bersorak gembira.

“Sesungguhnya Allah lebih berbahagia dengan taubat seorang hamba-Nya daripada seorang musafir yang kehilangan untanya di padang pasir, lalu menemukannya kembali.”
(HR. Muslim)

Allah telah menunggu, dan kini seorang hamba telah kembali ke pangkuan-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top
Exit mobile version