SHIAHINDONESIA.COM – Dalam sejarah Islam, sebagian pihak menuding bahwa Syiah memiliki “Al-Qur’an lain” bernama Mushaf Fatimah. Tuduhan ini tidak berdasar dan muncul karena istilah “mushaf” dipakai untuk kitab tersebut, yang juga digunakan untuk Al-Qur’an. Padahal, para ulama Syiah secara tegas menyatakan bahwa Mushaf Fatimah tidak mengandung satu pun ayat Al-Qur’an. Isinya adalah wahyu yang diberikan oleh malaikat Jibril kepada Sayidah Fatimah, berisi informasi tentang peristiwa masa depan dan nasihat spiritual.
Imam Ja’far al-Shadiq mencontohkan bahwa ketika Muhammad dan Ibrahim, keturunan Imam Hasan, memberontak terhadap khalifah Al-Mansur, nama mereka tidak tercatat dalam Mushaf Fatimah sebagai pemimpin umat Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Mushaf Fatimah adalah dokumen ilahiah yang bersifat khusus, bukan teks suci umat Islam secara umum.
Sebagai pembanding, dalam tradisi Sunni, kitab Al-Kitab karya Sibawayh juga disebut dengan istilah “kitab,” meski tidak ada hubungannya dengan Al-Qur’an. Bahkan, Al-Qur’an sendiri sering disebut “kitab,” seperti dalam QS. Al-Baqarah: 2 (“Dzalikal kitabu la raiba fihi…”). Istilah ini bersifat umum dan bukan monopoli Al-Qur’an, sehingga tidak ada alasan untuk mengaitkan Mushaf Fatimah dengan kitab suci umat Islam.
Penting untuk dicatat bahwa tudingan ini sering dijadikan alat untuk memfitnah dan melemahkan tradisi Syiah, serta menimbulkan keraguan terhadap keaslian Al-Qur’an. Padahal, ulama dari semua mazhab sepakat bahwa Al-Qur’an yang kita miliki saat ini adalah kitab yang lengkap sebagaimana diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, tanpa ada pengurangan atau tambahan.
Perselisihan antara mazhab lebih berkisar pada tafsir dan penafsiran ayat, bukan teks Al-Qur’an itu sendiri. Maka, umat Islam perlu bijaksana dalam menyikapi isu ini, agar tidak memberikan ruang bagi musuh Islam untuk menyerang persatuan umat. Tuduhan seperti ini tidak hanya merugikan satu kelompok, tetapi juga mencederai integritas ajaran Islam secara keseluruhan.
