Apa Penyebab Doa Tak Terkabul?


SHIAHINDONESIA.COM – Berdasarkan ayat Al-Qur’an, dan beberapa kutipan doa yang berasal dari para imam Maksum, bahwa Allah akan mengabulkan doa yang kita panjatkan.
Sebagaimana contoh-contoh berikut ini.

اذا سألک عبادی عنی فانی قریب اجیب دعوة الداع اذا دعان.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”

ادعونی استجب لکم


“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan (kabulkan) bagimu.”

 «یا مجیب الدعوات»


“Wahai yang mengabulkan doa-doa.” (Doa Jausyan Kabir, butir ke-2)
Berdasarkan ayat di atas, bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan oleh makhluk-Nya. Seiring dengan berjalannya waktu, muncul sebuah pertanyaan, kenapa beberapa doa yang dipanjatkan oleh manusia tidak dikabulkan oleh-Nya? Untuk menjawab pertanyaan ini, kami akan membahas hakikat doa dan makna dari diterimanuya sebuah doa.

Doa adalah sebuah harapan seseorang yang dia mohon pada Allah. Ketika doa ini dipanjatkan kepada Allah, yang disertai dengan niat ikhlas, yang hanya pada Allah-lah ia berdoa. Karenanya, selama doa itu tidak dipanjatkan kerana Allah atau ada niatan yang lain, selain-Nya, pada hakikatnya ia tidak sedang berdoa kepada Allah Swt.

Dengan mengetahui pengertian dari sebuah doa, maka dapat kita pahami bahwa doa merupakan bagian dari ibadah, sebagaimana yang telah ditegaskan juga di dalam sebuah riwayat, bahwa inti dari ibadah adalah dengan berdoa. Karenanya, kalau kita lihat di dalam surah Mukminin ayat 60, barang siapa yang mengutarakan doa dan berpaling darinya, maka Allah akan memberinya azab (siksa)

Sekarang, sudah jelas apa makna dari doa. Dapat kita katakan, bahwa tak ada satu pun doa yang tak dikabulkan. Sebab, sejatinya Allah sadar untuk memberikan Inayah kepada hamba-hamba-Nya. Dan itu merupakan sebuah jawaban dari doa. Bahkan, ini termasuk dari jawaban doa yang terbaik.

Karenanya, hakikat dari sebuah doa adalah bahwa Allah menerima kehadirannya, dan Dia berhadapan dengan hamba-Nya, dan lebih dari itu, bahwa melalui sebuah doa, seseorang sedang mengunjungi (ingat) Allah. Karenanya, ada sebuah kutipan doa yang paling menonjol di dalam doa Syakbaniyah, yang berbunyi sebagai berikut,  و أقبل الی اذا ناجیک
“Munajatku kepada-Mu hanya kerana Engkau memperhatikanku, bukan karena apa yang Engkau berikan padaku.”

Poin berikutnya, setelah kita tahu bahwa doa merupakan ibadah, maka Allah pun akan memberi pahala bagi mereka yang berdoa, di samping ketenangan hati dan kelapangan hati yang juga akan ia dapatkan (dari berdoa). Selain itu, berkat doa, seseorang jadi ringan dalam mengahadapi sebuah musibah. Poin inilah yang mestinya tak kita lupakan. Dan semua itu merupakan bentuk dari diijabahnya doa.

Sampai sini, menjadi jelas, bahwa sebuah doa tidak berujung tanpa dikabulkan. Namun, muncul pertanyaan lagi, tetapi apa yang kita inginkan dari  Tuhan, kenapa tidak pernah terwujud? Untuk menjawab ini, dapat kita katakan, jika sebuah doa yang diiringi dengan niat tulus dan sesuai dengan apa yang kita butuhkan dan hanya meminta kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkannya.

Adapun beberapa sebab yang membuat kita meragukan diijabahnya doa, setidaknya ada beberapa poin berikut.

Pertama: Doa yang kita panjatkan, antara doa sungguhan atau bukan. Ambil contoh, seperti misalnya kita memohon kepada Allah akan sesuatu yang mustahil terjadi dan bertentangan dengan ketentuan Allah, seperti kita memohon kepada Allah agar kita tidak mati dan agar Allah tak memberikan ujian pada kita.

Jika kita mengetahui kalau permintaan itu mustahil terwujud, maka kita tak akan memohon doa seperti itu. Sebab, apa yang kita mohon bukanlah sesuatu yang hakiki, namun cenderung ke lebih mengada-ada.

Kedua: Tidak ada niat ikhlas dalam berdoa. Di satu sisi kita berdoa kepada Allah, tetapi di sisi lain hati kita masih percaya dengan selainnya untuk mewujudkan doa.

Ketiga: Doa yang diijabah adalah doa yang hakiki. Dengan doa yang hakiki, maka doa itu akan dikabulkan. Namun, kita kadang tidak mengetahui kalau terijabahnya doa itu memiliki beberapa sebab, di antaranya sebagai berikut.

Kadang, disebabkan sebuah maslahat, doa yang terkabul menjadi tertunda.

Kadang, Allah tak memberi permintaan kita di dunia, sebab ada yang lebih baik jika harapan itu dikabulkan ketika di akhirat.

Kadang, kadang apa yang kita minta, sebaiknya disimpan untuk perkara akhirat kita.

Kadang, dengan doa yang kita panjatkan, Allah mencegah keburukan-keburukan yang akan menimpa kita.

Seluruh poin di atas, jika diketahui oleh orang yang berdoa, maka orang itu akan memaklumi perihal terijabahnya sebuah doa. Sebagai penutup, berikut adalah adab-adab yang mesti diperhatikan bagi orang yang hendak beroda.

1. Berprasangka baiklah kepada Allah ketika berdoa, dan yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan doa kita.
2. Berdoalah dalam semua kondisi, baik suka maupun duka.
3. Hadirkan hati dalam berdoa
4. Tunjukkan sisi paksaan dalam berdoa.
5. Sertai dengan mengirimkan selawat kepada Nabi Muhammad Saw dan keluarganya yang suci.
6. Berdoalah akan sesuatu yang masuk akal

Semua poin yang disampaikan di atas, terdapat di dalam riwayat. Jika poin-poin tersebut tidak ada di dalam doa, maka nilai doanya menjadi berkurang.


Sumber:
1. Tafsir al-Mizan, Ayatullah Husein Thaba’thaba’i jil. 2, hal. 3 dan hal. 33.

2. Al-Kafi, Muhammad Ya’qub Qulaini, jil. 2, hal. 467 dan 472-491


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top
Exit mobile version