SHIAHINDONESIA.COM – Ketika membahas tentang Nabi Muhammad Saw. seringkali muncul pertanyaan menarik seputar kemampuan beliau dalam membaca dan menulis sebelum kenabian.
Ayat tertentu dalam Al-Quran memberikan landasan bagi berbagai pandangan dan interpretasi dari para ulama. Salah satu ayat yang sering dikutip adalah Surah Al-Ankabut ayat 48, yang menyatakan bahwa Nabi Saw tidak membaca dan menulis sebelum Al-Quran diturunkan kepadanya.
Namun, apa sebenarnya makna dari ayat ini? Bagaimana ulama menafsirkannya? Mari kita telusuri lebih dalam.
Syubhat:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan kamu tidaklah membaca sebelum (datangnya) Al-Quran ini dan tidak (pula) menulisnya dengan tangan kananmu” (Surah Al-Ankabut: 48).
Para mufassir menyatakan bahwa Nabi Muhammad tidak pandai menulis dan membaca. Ayat ini tidak menunjukkan hal tersebut, namun menyiratkan bahwa beliau tidak pernah menulis Al-Quran. Sebagaimana orang yang tidak pandai menulis tidak akan menulis, begitu pula sebaliknya.
Jika terbukti bahwa beliau tidak pandai menulis sebelum ditunjukkan wahyu, maka wajib hukumnya bahwa beliau menjadi pandai menulis setelah mendapat wahyu, karena kecocokan dalam perkataan adalah tanda kefasihan.
Selain itu, penafsiran yang mendasarkan pada ayat tersebut menyangkal kemampuan Nabi Saw. membaca dan menulis sebelum kenabian, karena mereka ragu untuk menulis jika beliau sudah mahir sebelum kenabian. Namun setelah kenabian, tidak ada keraguan lagi.
Mungkin beliau belajar menulis dari Jibril setelah kenabian, atau mungkin juga tidak. Diketahui dari peristiwa Hudaibiyah bahwa beliau tidak bisa menulis, karena Suhail bin Amr berkata:
“Ini adalah apa yang Muhammad Rasulullah telah putuskan”, lalu Rasulullah Saw memerintahkan Ali untuk menghapusnya, dan kemudian berkata: “Tulislah ini dengan tanganku.”
Dalam hadis yang sama, disebutkan bahwa beliau pernah berkata: “Bawalah sebuah kertas kepada saya, aku akan menulis sebuah dokumen untukmu, dan setelah ini, kamu tidak akan tersesat.” Namun, Umar melarangnya.
Jawaban:
Pertanyaan tentang kemampuan membaca dan menulis Nabi Muhammad sebelum kenabian memang menarik. Hal ini memunculkan berbagai pandangan dan penafsiran dari para ulama.
Ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa beliau tidak pernah menulis Al-Quran sebelum kenabian, namun tidak mencakup kemampuan membaca secara umum.
Dengan demikian, berbagai interpretasi muncul dari ayat tersebut, mencakup kemungkinan bahwa Nabi Saw bisa belajar menulis setelah kenabian, atau beliau tidak pernah belajar menulis sama sekali.
Kejelasan atas masalah ini menjadi objek kajian dalam dunia ilmu hadis dan tafsir Al-Quran.
Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa kemampuan menulis atau membaca bukanlah penentu utama kenabian seseorang.
Kenabian Nabi Muhammad didasarkan pada wahyu yang diterimanya dan risalah yang dibawanya, bukan pada kemampuan menulis atau membaca.
Maka, meskipun ada perdebatan tentang kemampuan tersebut, hal tersebut tidak mengurangi kemuliaan dan kedudukan Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir yang membawa risalah sempurna untuk umat manusia.
*Artikel ini adalah intisari pemahaman penulis dari artikel asli berbahasa Arab, yang bisa dirujuk di link berikut.
