SHIAHINDONESIA.COM – Dalam kitab “Hilyat al-Awliya“, diceritakan bahwa Imam Ja’far bin Muhammad al-Sadiq As memberikan wasiat kepada putranya, Musa. Wasiat tersebut berisi nasihat berharga yang mencakup berbagai aspek kehidupan.
Imam Ja’far menekankan pentingnya menerima takdir Allah dan bersyukur dengan apa yang telah Dia tetapkan. Beliau mengingatkan bahwa orang yang ridha dengan pemberian Allah akan merasa cukup, sedangkan yang melebarkan pandangan ke harta orang lain akan mati dalam keadaan miskin.
Wasiat ini juga menyoroti bahaya meremehkan kesalahan diri sendiri dan membesarkan kesalahan orang lain. Imam Ja’far mengingatkan agar tidak mengungkapkan aib orang lain, karena hal itu dapat membongkar aib keluarga sendiri.
Imam Ja’far menyampaikan pesan-pesan bijak tentang kehidupan sosial, seperti menjauhi pergaulan dengan orang bodoh, menghindari pintu kejelekan, dan berbicara yang benar tanpa memandang apakah itu menguntungkan atau merugikan.
Beliau menekankan pentingnya bersikap baik kepada yang memutuskanmu, memulai dengan yang memintamu, dan menjauhi pembicaraan fitnah. Imam Ja’far juga mengajarkan agar mencari kebaikan dari orang-orang baik dan menghindari mencari kekurangan orang.
Wasiat ini mencakup aspek kemurahan hati, dengan Imam Ja’far menyarankan agar belajar dari sifat-sifat orang dermawan. Beliau menggambarkan bahwa dermawan memiliki sifat dasar, cabang-cabang, dan buah, seperti akar yang kokoh membutuhkan mineral yang baik.
Pesan terakhir adalah agar menjauhi keserakahan dan memahami bahwa memberi lebih baik daripada menerima. Wasiat ini disampaikan dengan sederhana namun sarat makna, mencerminkan kebijaksanaan Imam Ja’far dalam mendidik anak-anaknya dan memberikan panduan untuk kehidupan yang baik.
