Syubhat:
SHIAHINDONESIA.COM – Kelompok wahabi mengklaim, bahwa mazhab Syiah bukanlah mazhab yang mengikuti ajaran Ahlulbait Nabi, bahkan mereka mengklaim kalau mazhab Syiah dan Ahlulbait Nabi sama sekali tak memiliki hubungan. Benarkah demikian?
Jawab:
Mazhab Syiah pada hakikatnya adalah mazhab Ahlulbait itu sendiri. Sebuah mazhab di tengah mazhab-mazhab Islam yang berkiblat pada al-Quran dan Ahlulbait. Mazhab ini kemudian juga dikenal sebagai mazhab Ja’fari, Ahlulbait dan mazhab dua belas imam (Itsna Asyari). Mazhab Syiah, dalam urusan syariat Islam menjadikan Ahlulbait sebagai kiblatnya. Banyak dalil yang membuktikan bahwa Mazhab Syiah adalah satu-satunya mazhab yang ajarannya sesuai (baca: mempraktikkan) dengan yang diajarkan oleh Ahlulbait Nabi
Hal ini dapat kita buktikan melalui penjabaran berikut:
1. Di tengah mazhab-mazhab Islam, tidak ada yang pernah mengklaim diri mereka sebagai pengikut setia Ahlulbait. Hanya mazhab Syiah yang mengkuti ajaran keluarga nabi, dari awal-awal Islam hingga kini. Dengan kata lain, mazhab Syiah tanpa Ahlulbait tidak akan pernah berdiri. Dan mazhab Ahlulbait tanpa adanya mazhab Syiah, ia tak akan terlihat bentuknya. Oleh karenanya, mazhab Syiah adalah mazhab Ahlulbait itu sendiri, dan mazhab Ahlulbait adalah mazhab Syiah itu sendiri.
2. Mazhab Ahlulbait merupakan mazhab Islam itu sendiri. Di dalam kitab-kitab karangan ulama Ahlusunnah jsutru menampakkan keterbalikannya, di mana justru di dalam beberapa kitab karangan ulama Ahlusunnah juga memberi judul kitabnya dengan kata Ahlulbait. Salah satunya adalah kitab karangan Syaukani yang berjudul, Irsyadul Ghai Ila Mazhabi Ahlilbait fi Suhubin-Nabi. Dan ulama Ahlusunnah yang lain juga memberikan judul di dalam kitabnya dengan kata Ahlulbait, yaitu kitab karangan Sayyid Abdul Hadi yang berjudul Hidayah al-Ra’iyiin ila Mazhabi Ahlilbait At-Thahirin.
3. Bukti lain kalau mazhab Syiah tak akan terpisahkan dengan mazhab Ahlulbait adalah, bahwa mazhab Syiah merupakan penjaga dan penukil dari ajaran-ajaran Ahlulbait. Jika pengikut (ulama) Mazhab Syiah dengan segenap tekanan dari penguasa yang menentang mazhab ini tidak menjaga keilmuan dan budaya Ahlulbait, di mana ilmu dan warisan Ahlulbait yang jumlahnya tak terhitung, dan juga tidak mewariskan kepada generasi berikutnya, maka ajaran Ahlulbait tidak memberikan dampak dan nilai (di masa kini).
4. Syiah Imamiyah dalam sepanjang sejarah adalah penyokong Ahlulbait, mazhab ini selalu mendukung ajaran-ajaran Ahlulbait, baik soal politik maupun sosial mereka. Kelompok Syiah, entah pada masa-masa kehidupan para Imam maupun selepas kehidupan mereka, tak pernah gentar berkorban untuk mereka, sekalipun nyawa dan harta menjadi taruhannya. Orang yang memiliki sedikit pengetahuan tentang sejarah mazhab Syiah tidak mengetahui kalau mereka (Pengikut Syiah) memiliki kesetiaan dan rasa ikhlas terhadap imamnya.
Belasungkawa kelompok Syiah atas kematian (syahadah) imam mereka, dan kebahagiaan mereka di hari kelahiran para imam mereka, membuat kelompok wahabi marah dan menganggap itu semua sebagai suatu bid’ah dan hal yang haram. Bersinarnya makam-makam para imam Ahlulbait di muka bumi ini menunjukka betapa orang-orang Syiah sangat menghormati dan menjaga pekuburan mereka, sementara kita melihat bahwa sekelompok Wahabi justru merusak dan memporak-porandakan makam para Ahlulbait Nabi di Baqi. Hal ini menjunjukkan dengan jelas bahwa mereka bersikap tak hormat pada Ahlulbait Nabi.
Perhatian para imam Ahlulbait kepada para pengikutnya adalah bukti lain bahwa orang-orang Syiah satu-satunya pengikut sejati mereka. Hal ini sengat jelas dan tak lagi perlu menyebutkan contohnya. Namun pada saat yang sama, menyebutkan contoh-contoh tentang perhatian mereka terhadap pengikutnya, sekalipun akan menyebabkan gunjingan terhadap mereka, adalah hal yang diperlukan.
Dinukil dalam sebuah hadis yang singkat, bawha suatu hari seorang sahabat dari Imam Ja’far Shadiq yang bernama Abu Muhammad bertanya kepadanya (Imam Ja’far Shadiq),
“Apakah sebuah julukan yang disematkan kepada kami akibat kesengsaraan kami, sampai-sampai perawi hadis meriwayatkan bahwa mereka menghalalkan darah kami?”
“Apakah yang Anda maksud itu kata Rafidhah?”
“Iya, wahai Imam.”
“Demi Allah, mereka tidak menjuluki kalian dengan kata itu, bahkan Allah-lah yang menjuluki kalian dengan kata itu. Taukah Anda, bahwa sebanyak tujuh puluh orang dari Bani Israil, Fir’aun dan kaumnya pada suatu hari mereka berpaling? Lalu bergabung dengan kafilah Nabi Musa As, di mana petunjuk Nabi Musa bagi mereka terlihat tampak, dan kesesatan Fir’aun menjadi jelas bagi mereka, lalu orang-orang yang berpaling inilah disebut sebagai Rafidhah? Lantaran mereka telah berpaling dari Fir’aun dan meninggalkannya. Kemudian kelompok yang berpaling dari Fir’aun itu menjadi kelompok yang paling setia terhadap Nabi Musa As dan menjadi pecinta sejatinya.
Dalam lanjutan riwayat ini Imam Ja’far melanjutkan…
“Mereka yang menjuluki kalian dengan sebuatn Rafidhah, pada dasarnya mereka telah berpaling dari kebenaran, sementara kalian telah berpaling dari keburukan. Manusia telah terkotak-kotakkan menjadi beberapa kelompok. Kalian terpaut jauh dari mereka soal kedekatan kalian pada Ahlulbait. Kalian telah menemph suatu jalan (menuju Ahlulbait), dan mereka pergi (entah kemana). Sesuatu yang telah kalian kehendaki, maka Allah akan berkehendak atas apa yang kalian kehendaki.”
Sumber:
- Idhahul Maknun fi Dzail Ala Kasyfi Ad-Dzunun, Ismail Yasya Bagdhadi, jil. 1, hal. 61, penerbit Dar Ihya’ at-Turast Al-Arabi, Beirut-Lebanon
- Ibid, jil. 2, hal. 720
- Al-Kafi, Kulaini, jil. 8, hal. 34, penerbit Darul Kutub Al-Islamiyah, Teheran-Iran
.
